Senin, 09 Februari 2015

Tentang Tuhan, Yang Harus Ada

Saya baru saja selesai menonton salah satu film India terbaik yang pernah saya tonton. Saya bersyukur bisa menontonnya di awal tahun ini. Meskipun, bisa dibilang saya cukup tertinggal, karena teman-teman saya yang lain sudah lebih dulu menonton, membahas, dan memperbincangkan mengenai film ini. Ya, "PK" judulnya, dengan Amir Khan sebagai bintang utamanya. Film ini bercerita tentang seorang makhluk dari planet lain yang ditugaskan untuk melakukan penelitian mengenai makhluk bumi, yang diperankan oleh Amir Khan. Salah satu adegan yang menarik adalah ketika PK masuk ke dalam ruang khusus bayi di salah satu rumah sakit di New Delhi, dan ia mencari tanda atau label agama di tubuh bayi tersebut. Ia bertanya, "mana tandanya?", tanda kalau dia sudah menganut agama dan kepercayaan tertentu. Begitulah, banyak dari kita yang menganut ajaran agama yang sama seperti apa yang orang tua kita percaya. Kita tidak atau mungkin tidak berani menerima atau mengambil kesempatan untuk memilih untuk percaya pada Tuhan yang mana dan menyembah dengan cara apa. Film ini memang banyak bertutur mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pemaknaan pada sosok Tuhan. Tuhan itu satu, kemudian kita menciptakan Tuhan-Tuhan kita sendiri, membentuk kelompok kita sendiri, serta memiliki aturan yang berbeda-beda yang tidak jarang justru menimbulkan perpecahan. Tentu bukan ini yang diinginkan oleh Tuhan.

Mari kita tinggalkan PK sejenak, lalu beranjak pada hal-hal yang kita temui sehari-hari. Di jalan-jalan, saya pernah melihat spanduk dengan tulisan besar-besar "Indonesia Milik Allah", tertanda salah satu ormas islam. Spanduk lainnya lagi berbunyi, "Tolak Pemimpin Kafir". Apakah ini sebagai bentuk cara membela agama, membela Tuhan, atau membela keyakinan golongan tertentu?. Jika spanduk-spanduk itu memang dibuat untuk membela Tuhan serta agama, saya yakin Tuhan tidak ingin dibela dengan cara senorak itu. Saya yakin, Tuhan tidak perlu dibela. Kalau Tuhan perlu dibela, untuk apa Dia punya sifat maha kuasa, dan maha segalanya. Tuhan tidak perlu dibela dengan parang dan bedil, Dia cukup menjentikkan jari jika Dia mau merubah sesuatu sesuai kehendakNya. Jika memang orang-orang yang membela Tuhan itu betul-betul cinta pada Tuhan, tentu mereka tidak akan tega mengayunkan parang ke tubuh manusia sambil mengucap asmanya. Tidak pantas nama Tuhan disebut bersamaan dengan melakukan perbuatan keji. Bukankah Tuhan maha pengasih dan penyayang? Seperti percakapan yang dilakukan Mitch Albom dengan Reb dalam bukunya yang berjudul "Have A Little Faith" mengenai kegelisahan akan banyaknya orang yang melancarkan perang atas nama Tuhan.
"Mitch, kata Reb, "Tuhan tidak menginginkan pembunuhan seperti itu terus berlangsung."
"Lalu mengapa perang tak pernah berhenti?" Ia mengangkat alisnya
"Karena manusia menginginkannya"

Dalam bukunya yang berjudul "God Explained In Taxi Ride", Paul Arden menulis bahwa kata Darwin Tuhan tidak ada, yang ada hanya sains dan revolusi. Menurut Arden, hal itu terlalu sederhana bagi kebanyakan dari kita. Kita membutuhkan belaha jiwa, dan kita menengadah ke atas untuk menemukannya. Kita membutuhkan sesuatu yang sifatnya spiritual untuk kita yakini. Arden menjawab kegelisahan kita tentang Tuhan melalui buku ini, yang juga didasari oleh kegelisahannya sendiri. Ada lagi kutipan Arden yang menarik bagi saya,

" Kita semua punya sambungan langsung ke Tuhan. Kita tidak membutuhkan pengkhotbah atau nabi. Kita hanya perlu percaya bahwa ada suatu kuasa atau kekuatan yang sempurna. Namun tidak banyak hal akan menerima hal ini. Terlalu sederhana, kita harus membuatnya rumit. Tuhan pun tahu, itulah yang dilakukan agama, yaitu membuat segala hal menjadi rumit." 

Jika Tuhan memang sedekat itu dengan kita, begitu sederhananya Dia terjamah tanpa perlu ritual dan syarat yang membuatnya menjadi rumit, Ah, terkadang yang terlalu sederhana kerap disepelekan. Harus disampaikan dengan kata-kata setinggi langit dan jejeran ayat yang membuat kening berkerut, untuk membuat seseorang betul-betul yakin akan keberadaan Tuhan.

Beberapa hari lalu saya menemani sahabat saya untuk operasi kecil penanaman cimino. Sebuah alat yang ditanam di lengan kiri yang berfungsi sebagai jalan permanen dalam proses cuci darah. Sahabat saya mengidap penyakit ginjal yang tergolong langka sejak ia berusia empat tahun. Ia bertahan selama 22 tahun berdamai dan menerima penyakit yang ada di tubuhnya. Di saat orang lain mungkin sudah hampir menyerah, dan marah terhadap diri sendiri, dan mungkin juga marah terhadap Tuhan. Sahabat saya ini justru percaya, Tuhan punya maksud lain memberika ia penyakit yang begitu unik. Teriring doa dan harapan untuk Tuhan saat saya, serta kedua orang tuanya mendorong kursi roda mengantarkan ia menuju ruang operasi. Dia sendirian di sana, menjalani proses itu, hanya Tuhan satu-satunya tempat ia bergantung. Berharap dokter tidak salah memotong urat-uratnya, berharap segalanya berjalan dengan lancar. Barangkali, Tuhan memang perlu ada untuk tempat bergantung harapan, Untuk tempat menghujat dan bertanya "kenapa Tuhan? Kenapa harus saya?". Barangkali, di antara semua kekuasaan yang ada di muka bumi, di antara dokter-dokter bedah yang hebat, di antara polisi-polisi yang baik, penguasa yang jujus, politikus handal, dan jutawan dermawan, Tuhan harus tetap ada sebagai pengingat bahwa ada kuasa di atas kuasa. Bahwa ada yang maha Dia yang mengendalikan seluruh semesta dan isinya. Tuhan ada untuk tempat bergantung kaum papa, kaum yang merasakan ketidak adilan atas dirinya, kaum yang merasa hidup begitu sulit, tapi memilih untuk tidak gantung diri karena percaya Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Karena Tuhan ada, sahabat saya percaya bahwa hidupnya harus dijalani penuh makna, serta penuh harap akan kesembuhannya. Ia percaya, di balik tangan dokter yang hebat, ada kuasa Tuhan yang mengendalikan semuanya.

Jika Tuhan memang ada, di mana kita menemukanNya? 
Di masjid, pura, wihara, kuil, gereja, atau keheningan?
Jawabannya selalu ada di dalam dirimu sendiri.


Selasa, 03 Februari 2015

Berhenti Lalu Lanjut Jalan

Sebuah pesan singkat, di telepon genggam seorang sahabat :


"Saya sudah lakukan semua yang saya bisa, dan tidak ada perubahan. Ini saatnya saya berhenti, dan melanjutkan kehidupan saya sendiri"

Minggu, 01 Februari 2015

Sabtu Bersama Bapak

Seperti biasa, saya baru saja membaca sebuah buku yang menggugah hati saya, yang membuat saya membacanya berulang kali. Tulisan ini bukan semacam review untuk sebuah buku yang habis saya baca. Tulisan ini saya buat sebagai bentuk refleksi atas apa yang sudah saya baca. Judul buku ini adalah "Sabtu Bersama Bapak", yang ditulis oleh Adhitya Mulya dengan bahasa yang ringan dan sarat makna.

Membaca buku ini seperti bercermin, pada masa lalu juga membawa saya berpikir jauh ke depan. Buku ini memang ditulis dari sudut pandang seorang bapak. Seorang bapak yang ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak serta istrinya. Sosok bapak yang tidak hadir secara nyata, tapi hadir secara makna, menemani keluarga mereka tumbuh dewasa.

Hubungan antara anak laki-laki dan bapaknya adalah sebuah relasi yang unik. Hal ini saya dapatkan dari hasil pengamatan saya terhadap sahabat-sahabat laki-laki saya. Ada sebuah jeda yang semakin lebar antara bapak dan anak lelakinya ketika sang anak beranjak dewasa. Sahabat saya, selalu bercerita seperti itu. Sama sekali, Ia tidak cocok berbincang dengan bapaknya. Entah mungkin karena sama-sama berasal dari planet yang sama, atau memiliki ego kelaki-lakian yang sama, seorang anak lelaki menjadi begitu renggang ketika beranjak dewasa. Tidak heran, seorang anak laki-laki akan lebih dekat dengan ibunya. Mungkin diam-diam hal ini juga ditakuti oleh sang bapak. Jangan-jangan seorang bapak menginginkan anak lelakinya tidak tumbuh besar dan dewasa, agar ia bisa selalu nyambung, bisa selalu menjadi sosok bapak yang diimpikan bagi anak-anaknya. Seperti apa pun sosok bapak seharusnya, Adith menuliskan hubungan antara bapak dengan anak laki-lakinya dengan sangat apik di buku ini.

Relasi antara anak perempuan dengan bapaknya juga bisa dibilang unik. Saya contohnya, dekat dengan kedua orang tua saya. Bapak, adalah salah satu sosok laki-laki yang saya kagumi, terlepas dari berbagai sifat yang melekat pada dirinya. Karena bapak ada, saya bisa lahir ke dunia ini, bisa hidup dan mengenyam pendidikan yang nyaman, hidup berlimpah meski tidak mewah. Bapak saya, yang mengajari saya pertama kali naik sepeda, memutar-mutar tubuh saya, dan membawa saya terlelap di pangkuannya. Sampai usia saya sebesar ini, saya kadang masih suka manja sama bapak. Saya juga suka menghabiskan waktu bersama bapak. Terlebih saat malam pergantian tahun. Hampir setiap tahun saya habiskan dengan menonton TV bersama bapak, sampai tiba pergantian tahun lalu kami saling pamit tidur.

Membaca buku "Sabtu Bersama Bapak" membuat saya menerawang jauh ke depan. Saya ingin mencontoh sosok Bapak Gunawan dan Ibu Itje di buku ini. Pasangan yang saling mendukkung satu sama lain. Saling cinta sampai akhirnya salah satu dari mereka harus pindah ke dunia yang lain. Saya juga ingin mencontoh bagaiaman Pak Gunawan mendampingi anak-anaknya tumbuh. Banyak yang saya inginkan, dan semoga bisa tercapai. 

Buku ini juga sarat dengan beberapa nilai-nilai penting yang harus dimiliki oleh orang tua. Sebuah buku yang banyak menyisipkan pelajaran mengenai parenting tanpa terkesan menggurui juga minim teori. Semoga, buku ini bisa dibaca oleh lebih banyak orang, lebih banyak sahabat laki-laki saya. Dan untuk bapak, saya sayang bapak.

Sabtu, 31 Januari 2015

Self Project

Menjadi manusia rutin mungkin adalah salah satu ketakutan yang saya alami beberapa tahun silam. Sebagai orang yang mudah sekali bosan, saya selalu punya banyak cara untuk memecah rutinitas. Dalam hal berpacaran saja misalnya, ada serentet kegiatan dari mulai memanjat pohon sampai masuk ke gorong-gorong menghiasi kebersamaan saya dan dia. Betapa takutnya saya untuk duduk bekerja di sebuah kubikel yang ruang geraknya terbatas. Kini saya justru sangat menginginkannya. Saya menginginkan sebuah rutinitas.
Suatu kegiatan yang teratur, yang berpola. Saya menyadari, ternyata saya hanya takut untuk hidup teratur, hidup berpola dan takut kehilangan diri sendiri di antara rentetan pola pola tersebut. Bangun pagi, shalat subuh, sarapan, berangkat kerja, pulang sore lalu tidur. Terus begitu setiap hari adalah mimpi buruk bagi saya (dulu). Dengan alasan itulah saya selalu memilih pekerjaan lapangan. Pekerjaan yang lebih dinamis dan bisa bertemu dengan orang-orang yang berbeda.

Kini, saya sadar. Ternyata saya butuh tantangan yang lain. Di luar kebebasan saya. Untuk itu, mulai tahun ini, saya memutuskan dan bermimpi juga untuk bisa bergabung di salah satu perusahaan multi nasional dan bisa belajar banyak hal di sana (semoga tercapai, amin). Selain itu, saya juga membuat tantangan-tantangan kecil untuk diri saya sendiri yang saya namankan self project. Self  project saya di bulan Januari ini adalah melakukan latihan fisik secara rutin setiap hari. Berawal dari keinginan saya untuk berolahraga, saya ingin lari tapi sayangnya belum punya sepatu lari dan kurang rajin untuk bangun pagi. Saya memutuskan untuk melakukan sit up sehabis bangun tidur atau sebelum tidur. Awalnya ini saya lakukan sendiri, kemudian saya mengajak salah satu teman saya, sebut saja dia Nino untuk menjadi rival saya. Hal ini berlangsung selama beberapa hari. Sampai akhiranya rutinitas sit up yang sudah terjadwal sempat terhenti karena saya menderita demam tinggi sehabis digigit kelabang ketika tidur -_-".

Project sit up ini saya lanjutkan lagi sendirian. Sampai pada suatu hari, ketika saya hadir di pertemuan rutin tim Expos, ternyata pelatih taekwondo saya sedang menjalankan program latihan untuk meningkatkan performa fisiknya. Wah, saya sangat tertarik akan hal ini. Bincang demi bincang, saya diberikan serentetan program latihan yang harus saya lakukan setiap hari. Lari di tempat, jumping jack, squad, adalah beberapa di antaranya. Awal - awal melakukan latihan ini, sungguh rasanya seperti habis melakukan marathon sejauh 9 km. Otot paha dan betis saya tertarik semua, yang membuat saya berjalan agak tertatih. Hari demi hari dilalui dan seri demi seri dijalani, kini badan saya menunjukkan hasilnya. Saya merasa lebih sehat, badan saya lebih ringan, juga yang terpenting adalah perut saya kempis :). Porject ini akan terus saya jalani sampai tepat tanggal 7 April. Perayaan ulang tahun tim bayangan (tim fighter di tim taekwondo saya).

Januari sudah hampir habis, saya ingin menantang diri saya lagi di bulan Februari. Self Project di bulan Februari adalah #FebruariMenulis. Saya akan membuat suatu rutinitas untuk mengasah kembali kemampuan bertutur saya melalui tulisan. Juga sebagai sarana latihan menulis demi sebuah project menulis novel bersama mas Edi (maapkeun mas, belum setor tulisan sampai sekarang -_-)

Terima kasih Januari yang penuh kejutan :)
Mari menyambut kejutan-kejutan berikutnya di Februari.

Rabu, 21 Januari 2015

"Cukup" Untuk Sepotong Siomay

Tiga tahun, ternyata tidak terasa kita sudah terpisah jarak pikiran dan hati. Saya selalu percaya, hati yang sudah bersatu hanya bisa dipisahkan oleh kematian. Seperti hal nya saya dan kamu. Tiga tahun berpisah tidak serta merta menjadikan kita menjadi sosok yang tak saling kenal. Kamu menantang idealisme kamu di sebuah perusahaan multinasional dan terdampar di pinggir Kalimantan. Tempat kamu bebas mencurahkan pikiran, rasa, juga asa tanpa ada batas, karena di sana kamu benar-benar menjadi dirimu sendiri.

Selalu, dengan cara yang tidak biasa. Dengan kemungkinan yang menurutmu tingkat presisinya sangat kecil, Tuhan menyambungkan kembali hati dan pikiran kita, dengan cara yang tidak biasa tentunya. Di malam yang sepi, saya memandang ke tepi jendela kereta api ekonomi menuju Malang. Ketika teman-teman saya terjebak dengan perbincangan tentang Tuhan. Ada pesan singkat yang menarik perhatian saya, menarik pikiran Saya, menarik hati Saya kembali. Ah, sudah lama sekali tidak bertegur sapa. Mendapat sebuah pesan singkat dari seorang sahabat lama rasanya lebih hebat dari sekedar mendapat durian runtuh (sebut saya lebay *sigh).

Ya, one thing lead to another. Perbincangan kita menjadi lebih berkembang. Dari yang awalnya kaku (maklum jedanya agak lama) sampai kemudian bisa cair kembali. Saya merasa kamu kembali, menjadi sosok sahabat saya yang saya kenal dulu. Obrolan demi obrolan membawa kita pada ajakan-ajakan untuk bertemu meskipun malu-malu. Hingga pada akhirnya, kamu kembali ke Bogor dan Saya kebetulan juga harus menghabiskan liburan Saya di sana. Ah, Bogor..tempat saya menemukan keping diri saya yang lain, yang membuat ingatan saya berziarah. 

Kamu, mungkin status sosial kamu sudah banyak berubah sekarang. Jabatan, Wanita yang selalu memujamu, dan Harta yang kini ada di genggaman terkadang membuatmu terlihat seperti orang lain. Saya ragu untuk mengajak kamu kemah, atau menantang kematian memanjat tebing licin di kala hujan, masihkah kamu mau? Berlelah menapak bebatuan, kehujanan, kebasahan tanpa pelindung? Saya sedikit ragu, dan semoga Saya salah tentang ini.

Satu minggu di Bogor tidak membuat Saya leluasa berbincang dengan kamu, karena satu dan lain hal yang membuat kita tidak banyak punya waktu berdua. Di kesempatan yang menurut Saya jarang terjadi, Saya mengajak kamu untuk bertemu di Jakarta, dan tentu saja kamu menolaknya. Bogor terlalu indah dan magis untuk ditinggalkan.
 ***
Selasa, satu hari sebelum ulang tahun kamu, hari yang cerah untuk berbincang. Saya dan kamu menikmati Bogor dari tempat yang agak tinggi. Makan siang, ditemani derasnya aliran sungai. Sambil menatap buku menu, saya sangat tertarik dengan menu-menu yang disajikan, rasanya ingin menyantap semuanya, tapi rasanya tidak mungkin karena perut saya tentu tidak cukup menampung semua makanan itu. 

Terlarut, saya dan kamu dalam obrolan-obrolan remeh temeh dan serius. Bunyi semdok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi musik pengiring perbincangan kita. Persahabatan memang selalu teruji peristiwa dan waktu. Saat berbincang dengan kamu, saya merasa ada yang berubah dari gaya kamu, tapi tidak dengan karakter kamu. Masih corelis-melankolis, narsis, acak-abstrak juga kontemplatif. Sesungguhnya kita lebih bayak diam saat itu. Mengobrol panjang, lalu diam lama..memandangi sungai, juga burung elang yang terbang bebas. Diam bersama kamu selalu beda, rasanya seperti sudah memuntahkan seluruh isi perut, tanpa perlu banyak kata.

***

Jeda panjang kita pada akhirnya dipecahkan oleh sebuah keinginan untuk mengunyah kembali. Maka kita sepakat untuk memesan makanan kembali. Kamu memilih siomay dan yoghurt, dan saya memilih pisang goreng. Sungguh, menu-menu yang tersaji sangat menarik, rasanya ingin mencoba semuanya. Tapi, lagi-lagi perut saya tentu tidak cukup untuk menampung semua itu. Kamu, seperti biasa hanya lapar mata.

Saya melahap pisang goreng saya dengan nikmat yang sama ketika saya menyantap sup iga. Tapi kamu, menyantap siomay dengan nikmat yang terpaksa. Sebenarnya kamu sudah merasa cukup, tapi gambar siomay di buku menu memang sungguh menggoda.

Mengingat satu dari lima siomay yang tersisa, di mana 3 siomay lainnya adalah saya yang memakannya, kita berhenti pada satu kata "cukup"sudah kenyang. Harus ada kata "cukup". Jika kita hidup untuk makan, akan banyak sekali menu-menu menggoda yang hadir di depan mata, dan selalu menggoda untuk diicip. Entah dari mana asalnya, perut dan pikiran kita selalu memilih menu terbaik untuk dimasukkan ke perut dan memuaskan pikiran. Untuk menu-menu menggoda yang lainnya, kita bisa bilang "cukup" saya sudah kenyang, Alhamdulillah.

Sama seperti siomay yang pada akhirnya tersisa. Hidup kita, hati kita juga punya kapasitasnya sendiri. Mungkin akan tiba waktunya kamu akan berkata "cukup" untuk tawaran-tawaran yang menggiurkan, untuk godaan-godaan yang datang. Bukan karena kamu tidak suka akan kemilaunya, tapi karena kamu sudah merasa "cukup" dengan apa yang kamu punya. Memilikinya berlebihan tidak akan membuat kamu bahagia. Sama seperti menghabiskan satu siomay yang tersisa hanya akan membuat perutmu begah. Biarkan ia tersisa, karena perut dan pikiranmu berkata, ini sudah "cukup", meskipun sebagai manusia yang memiliki otak komodo kita tidak akan pernah merasa cukup.

Nicholas Saputra, dalam perannya sebagai Yusuf di Film 3 Hari Untuk Selamanya (you have to watch this movie) ada potongan dialognya begini "..........saat usia kita menginjak angka 27 dan 29 kita akan mengambil keputusan penting dalam hidup kita yang akan merubah diri kita......"
Mudah-mudahan di usia kamu yang sekarang dan nanti kamu bisa terus mengambil keputusan-keputusan penting tersebut. Bisa mengatakan "cukup" untuk petualangan mencari "the one". Berani jujur pada diri kamu sendiri, dan berkata "cukup" untuk hal-hal yang membuat kamu tergoda. Cukup bilang.  "alhamdulilah, saya sudah kenyang".

Terima kasih untuk waktu luangnya. Entah harus menunggu berapa tahun lagi untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Semoga nanti, ketika kita bertemu kembali, kamu sudah punya jawaban dan tahu kapan waktunya bilang "cukup", dan meninggalkan yang tersisa.






Minggu, 04 Januari 2015

Mengingat Anicca, Dukkha, Anatta

"Apakah kamu pernah menangis"

Ini adalah salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan oleh user, tempat saya melamar pekerjaan. Cukup lama saya terdiam, dan tidak selancar menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya. Karena sungguh, bagi saya itu adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Pernahkah? Pasti saya pernah menangis. Kapan dan karena apa? Saya tidak mengingat detail. Saya hanya ingat, saya pasti menangis jika ada masalah di keluarga saya, atau ketika saya berpisah dengan teman hidup saya. Itu pun, bukan peristiwa yang sering terjadi. Karena film? Tidak, tugas yang berat? Tidak, kematian? rasanya tidak.

Tidak menangis bukan berarti saya tidak sedih. Kehilangan, ada rasa sedih? pasti. Tapi saya memilih untuk tidak menangis. Saya hanya ingat satu quote yang saya tidak ingat sumbernya, kira-kira bunyinya begini "Nasib buruk mungkin tidak bisa kita hindari, tapi merasa sedih adalah sebuah pilihan."

Tahun 2014 adalah tahun kemelakatan bagi saya. Loh? Kenapa jadi bahas tentang kemelekatan? Karena rasa sedih dan bahagia pun bersumber dari sana.
Selepas bertugas di Tulang Bawang Barat, ada banyak sekali mimpi-mimpi dan rencana yang ingin saya jalani. Ada juga rasa rindu yang tertahan untuk bertemu dengan lelaki yang harumnya seperti rumah. Saya begitu menggantungkan hidup pada hal-hal ini. Ada juga rencana untuk menjajaki hubungan yang lebih serius, pun ini menjadi dasar saya untuk mengambil keputusan yang lain. Saya begitu melekat padanya, pada dia yang harumnya seperti rumah, pada rencana dan mimpi-mimpi. Hingga pada nyatanya, justru Saya menjadi takut untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Seperti ketika saya ada tawaran untuk bekerja di luar pulau, saya jadi takut untuk menerimanya, takut apabila hubungan jarak jauh yang akan dijalani justru menjadi penghalang bagi rencana besar bersama. Ketakutan ini semakin menumpuk, dan tanpa disadari justru berefek negatif. Otak komodo saya tidak terpuaskan karena keinginan saya tidak tercapai, juga tertekan oleh rasa takut. Efeknya? Saya seperti hilang arah, tidak tahu harus ambil keputusan apa.

Sampai pada akhirnya Saya kembali "pulang" pada rumah saya, "Tim Expos" tempat saya bisa melepas juga mengendalikan otak komodo dan kancil saya yang begitu liar. Saya mengaktifkan kembali radar-radar kesadaran saya. Mengaktifkan kembali kepekaan untuk bersyukur. Perlahan, Saya mulai membaik.

Tuhan yang maha baik juga mengingatkan saya untuk tidak melekat. Selain belum mendapatkan tempat belajar yang cocok bagi saya, di tahun 2014 saya kehilangan seluruh memori dalam hard disk laptop saya, saya kehilangan sosok yang harumnya seperti rumah, saya juga merasa kehilangan beberapa jejak jejak penting yang sudah pernah saya toreh. Ya, di saat itu saya terhempas....saya merasa sendirian, berada di titik nadir.

Tapi percayalah, Tuhan sungguh adil. Di Tahun 2014 juga saya bertemu dengan orang-orang hebat. Hubungan persahabatan saya dengan Faris dan Dina juga semakin baik. Kami bisa berteman layaknya orang biasa yang tidak pernah berkonflik sebelumnya. Saya berkenalan dengan Mas Edi Dimyati yang ternyata beliau adalah aktivis rumah baca, penulis buku dan pecinta museum. Teman-teman di Kelas Inspirasi, SabangMerauke, dan sahabat-sahabat lainnya yang begitu menginspirasi saya.

Mungkin hal-hal yang bersifat bendawi (partner, hard disk, pekerjaan) seakan menjauh dari saya. Akan tetapi, saya justru mendapatkan kelimpahan yang tiada tara dengan hadirnya sahabat-sahabat hati, yang membuka ruang-ruang inspirasi. Rasanya hati saya terbuka begitu lebar saat ini. Siap untuk menampung apa saja.

Teringat dengan obrolan bersama Mas Pras saat di berboncengan di motor, kami berdua menelusuri jalan sepi dari Kebagusan menuju Bekasi. Mas Pras cerita, ada tiga hal yang dipegang oleh para buddhis, yaitu Anicca (Tidak Kekal), Dukkha (Penderitaan) dan Anatta (Tiada Diri). Lebih lengkapnya bisa di baca Di sini.

Mungkin, ketiga tanda keberadaan atau kemelakatan tersebut hadir untuk menjadi pengingat saya. Membuat saya menoleh sejenak dan merefleksikan hal-hal tersebut pada diri saya. Bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, baik suka ataupun duka. Pun, memang semua yang ada di dunia hanyalah titipan, terlalu melekat membuat kita takut kehilangan, padahal niscayanya, segala hal bendawi hanyalah sebentuk titipan yang harus kita jaga. Jika sewaktu waktu sang Empunya ingin mengambil miliknya, seharusnya dengan ikhlas kita mengembalikannya bukan?

Sebagai catatan di awal tahun, saya menuliskan tujuan-tujuan serta mimpi-mimpi yang ingin saya capai di tahun 2015. Tapi kali ini dengan perasaan jauh lebih ikhlas, karena menyadari bahwa tidak ada yang abadi selain keabadian itu sendiri, tidak ada yang pasti selain ketidakpatian itu sendiri, dan segala hal yang saya terima, hanyalah sebuah titipan. Jadi? kenapa harus gelisah dan menjalani hidup penuh kekhawatiran?

Khawatir atau tidak, gelisah atau tenang adalah sebuah pilihan, baik memilih salah satu ataupun keduanya, hidup tetap harus berjalan. Jadi, kenapa harus memilih jalan yang pelik?

Di awal tahun ini saya sungguh bersyukur atas hal-hal yang saya terima di tahun sebelumnya, di tahun ini, juga tahun-tahun yang akan datang. 

Jadi, Apakah saya pernah menangis?tentu pernah...karena sedih?sedikit, lebih sering karena bahagia yang tertampung.


If everything has been written down, so why worry? 
-Dee, Grew a day older-

Rabu, 31 Desember 2014

After 3 Years

Sudah 3 tahun, sejak kita tidak lagi berbagi mimpi yang sama
Senang rasanya melihat kamu baik-baik saja
Senang juga rasanya kita bisa berteman kembali
Sungguh, tidak ada yang kekal. Bahkan untuk ku, butuh waktu untuk bersabar, 3 tahun lamanya menanti kamu, sahabat yang pergi lalu kembali lagi.
Mungin benar, bersabar adalah salah satu perjuangan untuk menanti seorang teman, kekasih, sahabat, kembali ke peraduan. 
Terkadang, perhatian yang berlebihan justru menyesakan, setiap orang butuh jeda, spasi, untuk dirinya sendiri. 
Meskipun butuh waktu 3 tahun
Dan entah, sampai berapa lama Aku bisa dengan bebas menyapamu.
Sampai nanti habis waktumu, dan kembali terbang..menuju dunia tanpa batas