"Bahagia itu sederhana", itu adalah kalimat yang seringkali saya dan teman-teman Pengajar Muda lontarkan selama menjalani tugas sebagai Pengajar Muda selama 14 bulan. Dimulai sejak masuk dalam camp pelatihan selama 7 minggu lamanya, kami mulai menyadari bahwa menjadi bahagia sungguh sangat sederhana. Ketika kami dikumpulkan dalam satu ruangan, menjadi diri kamu yang utuh, tanpa gadget di badan. Kami mulai menyadari keberadaan diri masing-masing. Ketika tidak memiliki akses terhadap media, baik cetak maupun elektronik, kami menyadari bahwa gelak tawa teman sebelah adalah sumber kebahagiaan yang nyata. Tidak perlu mencari jauh-jauh,cukup tengok sebelah mu dan dapatkan kebahagiaan di dalamnya.
Terlepas dari kerumunan positif bernama Indonesia Mengajar. Kebahagiaan bagi saya juga tersebar di mana-mana. Pada binar mata anak-anak, pada senyum lembut ibu, ledekan adik atau celoteh sahabat. Sesederhana itu menjadi bahagia, merasakan kesempurnaan dalam hidup.
Bahagia juga ada di setiap rasa syukur yang dipanjatkan. Syukur karena bisa bangun setiap pagi, menjemput rezeki, dan berkumpul bersama keluarga. Kalaupun hal-hal tersebut tidak bisa didapatkan, setidaknya masih ada rasa syukur untuk kesempatan yang diberikan Tuhan akan kehidupan ini.
Rasa syukur juga harus dirawat, harus ditumbuhkan...
cara saya merawatnya saat ini, dengan menuliskannya di sebuah buku yang berjudul "A Thank you Notes" kumpulan ucapan syukur dan rasa terima kasih yang saya alami setiap harinya. Percayalah, rasanya sangat tenang dan menyenangkan. Juga menjadi magnet bagi rasa syukur rasa syukur selanjutnya :)
Semacam perbincangan pada diri sendiri, sebuah terapi imajinasi dan kebebasan. Bercakap-cakap dalam jiwa....
Jumat, 15 Agustus 2014
Senin, 02 Juni 2014
Welcome June
Selamat datang bulan Juni..bulan yang penuh kehangatan
Mari merajut kembali mimpi-mimpi yang sempat tertunda, yang sempat terabaikan
Mari menyulam kembali tali silaturahmi
Waktunya untuk merapikan jejak-jejak yang sudah terlewat, memperbaiki hubungan-hubungan yang sempat renggang
Mari...mari...kembali bergandeng tangan
dengan visi yang lebih matang...
Masih ada setengah perjalanan sampai akhirnya kita menuju akhir tahun...mari membuat ini menjadi lebih bermakna :)
Mari merajut kembali mimpi-mimpi yang sempat tertunda, yang sempat terabaikan
Mari menyulam kembali tali silaturahmi
Waktunya untuk merapikan jejak-jejak yang sudah terlewat, memperbaiki hubungan-hubungan yang sempat renggang
Mari...mari...kembali bergandeng tangan
dengan visi yang lebih matang...
Masih ada setengah perjalanan sampai akhirnya kita menuju akhir tahun...mari membuat ini menjadi lebih bermakna :)
Kamis, 03 April 2014
Tentang Tabungan Positif
What we've tried to do is have neighbors, colleagues, friends and family talking. -David Plouffe
Saya percaya bahwa hidup harus seimbang dan selaras.Antara hati, pikiran, dan perbuatan. Saya juga percaya bahwa apapun di dunia ini selalu memiliki dua sisi, atau terdiri dari dua bentuk, dua hal,dan dua - dua lainnya. Seperti halnya kita memiliki dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki, siang-malam, besar-kecil, positif-negatif. Tuhan memang sudah menciptakannya berpasang-pasangan dengan adil.
Hanya saja, menurut saya Tuhan agak kurang proporsional dalam menentukan ukuran. Ada yang berkata bagian kanan dan kiri tubuh kita tidak sama persis. Kalau saya perhatikan dari anggota tubuh saya sih rasanya ada benarnya juga. Mata kanan dan kiri saya ukurannya tidak sama, begitu pula hal nya dengan telinga. Telinga kanan saya lebih besar dari telinga kiri saya. Memang tidak ada yang persis sama, karena fungsi dan tugas anggota kanan dan kiri pun berbeda-beda. Oke, mengapa saya justru membicarakan perbedaan kanan dan kiri ya?
Kembali pada dua sisi. Di semesta ini juga ada dua energi yang melingkupi kita yaitu energi positif dan energi negatif. Si positif ialah ia yang selalu memberikan energi kebaikan, optimisme, kejujuran, welas asih, dan segala hal yang berhubungan dengan kebaikan. Energi negatif merupakan kebalikannya. Hal ini lah yang sangat saya syukuri sebagai manusia. Memiliki sifat malaikat dan sifat setan. Seperti judul buku karangan Khrisnamurti "Damaikanlah Setan dan Malaikat dalam Pikiranmu", kita memang harus mengendalikan keduanya. Agar energi positif dan negatif yang ada di sekitar kita dapat kita kendalikan dengan baik. Sebaiknya justru memperbesar energi positif.
Berhubungan dengan menambah energi positif, saya percaya bahwa setiap manusia memiliki tabungan energi positif dan negatif. Semakin banyak tabungan energi positifnya, maka akan semakin baik pula jalan hidupnya. Saat ini saya sedang menyibak tabir hidup saya ke belakang. Apa yang membuat saya ada di titik ini, sekarang. Setelah 23 tahun saya bernapas. Begitu banyak hal-hal yang terlewati, baik yang tercatat atau terabaikan. Ketika saya melihat lagi diri saya ke belakang begitu banyak pencapaian yang saya lakukan karena saya selalu dilingkupi dengan hal-hal baik. Sampai saat ini saya percaya dan akan selalu percaya bahwa kebaikan akan berbalas dengan kebaikan. Bahwa kebaikan merupakan nama tengah yang harus kita sisipkan di setiap nama dan dipatri dalam hati. Begitu banyak hal-hal baik yang saya dapatkan. Keluarga yang baik, ayah yang selalu bekerja keras demi membiayai keluarga kami, ibu yang selalu memberikan makanan-makanan terbaik, guru-guru kehidupan saya, semesta, partner hidup saya, pimpinan saya, semuanya. Saya merasa sangat beruntung dilingkupi oleh banyak sekali hal-hal baik.
Saya menyadari belum atau bahkan tidak semua rencana dan mimpi saya menjadi nyata sesuai dengan keinginan saya. Tapi saya menyadari bahwa Tuhan menggantinya dengan yang lebih baik yang sesuai dengan kebutuhan saya dan memang seringnya seperti itu. Meskipun tidak semua hal yang saya lakukan selalu berhasil pada percobaan pertama, tapi Tuhan memberikan kekuatan kepada saya untuk mencoba pada kesempatan kedua. Ya, semua kekuatan itu. Pikiran-pikiran baik, prasangka-prasangka baik data dari tabungan energi positif yang diberikan oleh orang-orang baik yang sudah menemani perjalanan saya sampai sejauh ini. Saya berdoa dan selalu berharap hidup saya selalu dilingkupi hal-hal positif. Yang bisa menjadikan saya semakin kuat, cerdas juga bijak sebagai bekal hidup saya nanti, bekal ketika saya membangun keluarga saya sendiri.
Selasa, 01 April 2014
Cici sudah besar
Tiga Tahun sudah tidak berkunjung ke Tempat itu. Sebuah tempat yang dipenuhi dengan ketulusan, tawa riang anak-anak dan semangat pengabdian. Adalah sebuah yayasan yang menampung anak-anak tuna ganda yang terletak di daerah Cileungsi-Jawa Barat. Saya pertama kali berkunjung dan memutuskan untuk berbagi sedikit waktu saya untuk mereka pada saat saya masih duduk di bangku kuliah semester 6. Niat awalnya hanya ingin mengisi waktu luang saat libur semester yang terlalu panjang. Tapi ternyata, pengalaman selama 10 hari melayani mereka membuat saya begitu bahagia dan ingin berbagi selalu. Mungkin di mulai dari tempat itu kepekaan saya mulai timbul. Saya benar-benar menikmati saat-saat menemani mereka bermain, tidur, mandi, makan, berenang, dan jalan-jalan.
Saya memulainya di 2010, hanya 10 hari lalu saya kembali sibuk dengan hidup saya. Dengan masalah-masalah pribadi saya.
Hari ini, 31 Maret 2014 saya kembali mengunjungi mereka pada suatu acara. 3 Tahun lebih sudah, anak-anak yang bertahan hidup sudah tumbuh besar dan tambah pintar. Sebagian lain ada yang tidak bertahan hidup dan kembali pada sang pencipta, sebagian lainnya adalah anak yang baru dititipkan oleh keluarganya di yayasan ini. Ah, tidak terasa...waktu cepat sekali berlalu. Dan kembali bertemu mereka, artinya kembali memaknai perjalanan hidup. Juga kembali meresapi energi positif yang melingkupi tempat itu...
Dan tulisan ini hanyalah titik kecil refleksi yang sempat dituliskan,,untuk bocah di foto ini
Cici kini sudah besar :)
Jumat, 04 Oktober 2013
Pojok Membaca
Saya mendapat beberapa buah buku dan satu buah postcard dari @dewi_deori(Dewi Oktarina). Saya kemudian bermaksud meletakkan buku-buku ini di tempat saya bertugas, yaitu SDN 02 Bangun Jaya, Kecamatan Gunung Agung, Tulang Bawang Barat . Akan tetapi, sekolah ini belum memiliki perpustakaan dan ruangan yang tersedia pun pas jumlanya untuk ruang kelas dan ruang guru. Sebuah ide terlintas di benak saya, yaitu membuat pojok membaca. Sebuah tempat di sudut ruangan yang akan dijadikan tempat penyimpanan buku.
Saya menyampaian ide
ini kepada siswa kelas 4, dan mereka sangat antusias untuk mewujudkannya.
Anak-anak mengusulkan untuk membawa kardus bekas, karton, pensil warna dan
alat-alat lainnya untuk membuat pojok membaca. Saya senang melihat anak-anak
sangat antusias. Keesokan harinya, saya datang membawa beberapa alat tambahan
dan buku-buku yang akan di tata. Anak-anak sudah membawa peralatan lengkap. Kami siap membuat pojok membaca.
Ketika jam kosong
dan ada guru yang tidak datang, saya mengajak anak-anak membuat pojok membaca,
selagi saya mengajar di kelas yang lain. Saya hanya menjelaskan maksudnya, dan
anak-anak lah yang membuat sendiri tempat untuk buku dari kardus yang diberi judul
"pojok membaca". Selagi anak-anak berkreasi, saya tetap mengajar di
kelas lain. Seusai jam pelajaran saya berakhir, barulah saya datang ke kelas 4
untuk memantau. Anak-anak bekerja sama dengan baik. Ada yang bertugas memotong
kertas, membuat tulisan, menghias kardus, mewarnai, dan sebagainya.
| Anak-anak membuat "pojok membaca" |
Setelah jadi,
anak-anak menyusun buku di dalam kardus dengan rapi dan meletakkannya di sudut ruangan. Setelah itu, mereka
membuat jadwal untuk mengatur buku. Buku-buku ini akan disimpan di kantor
seusai sekolah dan akan dibawa lagi ke kelas di pagi hari oleh anak yang
bertugas. Anak-anak bertugas selama satu minggu sebagai petugas pojok membaca.
Sebagai petugas pojok membaca, mereka harus mengecek jumlah buku, mengetahui
siapa saja orang yang membaca buku, mengambil dan menyimpan buku di kantor.
Buku-buku ini hanya boleh dibaca di sekolah karena jumlahnya yang masih
terbatas.
| Tempat buku |
| Postcard dan daftar petugas |
Selama ada pojok membaca, anak-anak senang membaca. Mereka biasanya membaca di halaman sekolah, kelas atau lapangan. Untuk saat ini baru anak kelas 4 yang menjadi petugas pojok membaca, jadi bila ada anak kelas lain ingin meminjam buku untuk dibaca di kelas masing-masing, mereka terlebih dahulu harus izin kepada petugas. Selang waktu berjalan kegiatan ini berlangsung dengan sangat baik. Saat ini, petugas pojok membaca bukan lagi anak kelas 4, dan memang belum dilakukan pengaturan lagi, tetapi anak-anak sadar untuk mengambil dan mengembalikan buku di kantor. Setiap pelajaran kosong atau pun istirahat, anak-anak suka mengisi kegiatan dengan membaca. Bukan hanya itu, beberapa guru muda juga terkadang menemani anak-anak membaca buku saat istirahat =).
| Kegiatan anak-anak saat istirahat dan jam kosong |
Kamis, 26 September 2013
Belajar Tak Kenal Lelah
Hari itu saya datang
terlambat memenuhi janji dengan siswa kelas 6 SDN 02 Bangun Jaya, karena saya
harus mengisi les di SDN 01 Bangun Jaya. Saya berjanji untuk mengisi pelajaran
tambahan. Saya terlambat sekitar 15 menit, saya melaju sepeda motor dengan agak
cepat, merasa bersalah bila membuat anak-anak itu menunggu. Setibanya saya di
sekolah, ternyata hanya ada dua siswa yang datang, Asti dan Desi. Anak-anak
yang lain tidak datang karena berbagai alasan-rumah jauh dan tidak ada yang
mngantar, memilih bermain, tidak mau les, dan alasan-alasan lainnya. Disaat
teman-temannya yang lain memilih tidak datang ke sekolah, Asti dan Desi memilih
untuk menunggu saya dengan sabar sambil bermain di halaman sekolah.
Mereka menyambut
saya dengan senang hati, lalu menuntun tangan saya menuju ruang kelas. Tapi
hari itu kami kurang beruntung, ternyata kelas dikunci dan diantara mereka
tidak ada yang membawa kunci ruang kelas. Hal ini tidak menyurutkan semangat
mereka untuk belajar. "Kita belajar di depan TK aja yuk bu" Asti
mengaja saya sembari jalan menuju depan TK. Akhirnya, kami belajar di depan
halaman ruang TK. Hanya bertiga. "Belajar kurung gapit ya bu", pinta
Desi. Pembagian bersusun ke bawah,mereka menyebutnya kurung gapit. Asti dan
Desi sudah kelas 6, tetapi mereka belum bisa melakukan pembagian susun ke
bawah. Di sore itu, mereka belajar penuh semangat, hanya membahas mengenai
kurung gapit, sampai benar-benar bisa. Terus menerus mereka meminta saya
membuatkan soal untuk mereka kerjakan. Di akhir pelajaran, Asti dan Desi
meminta PR untuk mereka kerjakan di rumah, hanya tentang kurung gapit. Saya pun
membekali mereka dengan beberapa soal pembagian.
Keesokan harinya, di
sekolah mereka memberikan buku yang berisi jawaban hasil perhitungan mereka di
rumah. Hasilnya benar semua, alhamdulillah Asti dan Desi mulai lancar melakukan
pembagian bersusun. "Nanti les lagi ya bu, ajarinkurung gapit lagi",
pinta mereka sembari mengajak teman-teman yang lain. Saya hanya bisa
menganggukan kepala sambil tersenyum.
Asti, Desi dan siswa
kelas 6 lainnya mengikuti Ujian Nasional bulan Juni lalu. Syukur alhamdulillah dari
11 siswa kelas 6 semuanya melanjutkan sekolah ke SMP. Asti melanjutkan sekolah
di Madrasah Tsanawiyah dan Desi melanjutkan sekolah di SMP 1 Gunung Agung, salah
satu SMP terbaik di Kecamatan.
Rabu, 25 September 2013
Pasukan Delapan
Hari-hari bertemu
dengan anak-anak adalah hari-hari mendebarkan. Ada rasa senang juga antusias
berlebih menanti hari-hari bertemu anak-anak. SDN 02 Bangun Jaya, Kecamatan Gunung Agung,
Kabupaten Tulang Bawang Barat adalah sekolah kedua tempat saya mengajar. Saya
memang mengajar di dua sekolah. SDN 01 dan 02 Bangun Jaya. Kondisi SDN 02
Bangun Jaya masih jauh bila dibandingkan dengan SDN 01, baik dari segi sarana
prasarana maupun jumlah guru. Guru di SDN 02 Bangun Jaya berjumlah 8 orang, 9
termasuk saya. Jumlah ruangannya pas 7, 1 untuk ruang guru dan 6 untuk kelas.
Sekolah ini butuh banyak sekali orang-orang yang peduli pendidikan. Seharusnya,
kepedulian itu dimulai dari guru, tetapi di sekolah ini, rasa memiliki guru
terhadap sekolah masih butuh peningkatan. Bila guru-guru di sini butuh api
semangat, hal ini berbanding terbalik dengan anak-anak. Siswa di sekolah ini
hanya 80 anak dari kelas 1 sampai 6. tetapi semangat mereka dua kali lipat
lebih besar dari jumlahnya.
Saya akan bercerita
tentang 8 orang anak luar biasa yang duduk di bangku kelas 5. saya mengampu
mata pelajaran matematika di sekolah ini. Saya berkenalan dengan anak-anak ini
sejak mereka duduk di kelas 4, dulu jumlahnya 9. hanya saja satu anak harus pindah
dengan alasan mencari jarak sekolah yang dekat dari rumahnya. Saya menyebut
mereka "Pasukan Delapan"
Mereka adalah
anak-anak penuh semangat. Dari sorot mata mereka terpancar rasa ingin tahu,
juga haus akan ilmu pengetahuan. Ketika saya mengajar di kelas memang banyak
sekali hutang yang harus saya bayar, karena anak-anak ini jauh tertinggal. Guru
matematika sebelum saya adalah sosok yang menyeramkan bagi anak-anak, ringan
tangan dan membuat anak-anak takut. Anak-anak semakin tidak suka dengan
pelajaran matematika. Tapi semua berubah ketika mereka tahu bahwa guru matematikanya kini bukan guru yang ringan tangan. Perlahan-lahan mereka mulai membuka diri. Memudahkan jalan saya untuk membayar hutang. Perlahan-lahan mereka mulai menyenangi pelajaran
matematika, dan ternyata sungguh luar biasa, kegiatan nyaur hutang tidak
seberat yang saya bayangkan. Anak-anak ini berlari sangat cepat, melebihi
kecepatan saya mengajar. Anak-anak ini cepat betul menangkap konsep matematika,
selalu meminta dibekali pekerjaan rumah,selalu minta tanya jawab, dan selalu
minta jumlah soal yang banyak ketika sedang latihan soal di kelas. Terkadang
saya sungguh kewalahan menghadapai mereka. Sering ketika saya menerangkan suatu
materi, mereka berkata "cukup bu, ga usah banyak-banyak contohnya,
langsung soal aja", kemudian yang lain menyahut "10 aja bu",
"20 bu", "50 bu". Selain itu, di akhir pelajaran mereka selalu menagih kegiatan tanya jawab, tebak-tebakan matematik atau menagih dibekali PR untuk dikerjakan di rumah. Saya hanya bisa terpana melihat tingkah
mereka di kelas, campur senyum sumringah dan haru. Saya baru menemui anak-anak
seperti ini, anak-anak yang coba saya tuntun untuk memahami suatu pelajaran, tetapi
mereka justru mengajak saya berlari sangat..sangat cepat. Walau terkadang
mereka masih kurang teliti, tapi mereka tidak pernah bosan meminta perbaikan.
Delapan anak ini, adalah anak-anak luar biasa. Anak-anak yang bisa sangat berkembang di masa depan, karena semangatnya yang luar biasa. Hal ini juga mengingatkan saya pada formasi angka
delapan,angka yang tidak pernah terputus. Semoga juga begitu, delapan anak yang
tidak pernah putus semangatnya, tidak pernah putus rasa persaudaraannya, tidak
pernah putus cita-citanya, juga tidak pernah putus asanya. Di masa depan, saya
percaya anak-anak ini akan menjadi anak-anak yang hebat. Anak-anak yang kelak
akan menggoreskan senyum di hati orang tua mereka :)
Langganan:
Postingan (Atom)


