Rabu, 21 Januari 2015

"Cukup" Untuk Sepotong Siomay

Tiga tahun, ternyata tidak terasa kita sudah terpisah jarak pikiran dan hati. Saya selalu percaya, hati yang sudah bersatu hanya bisa dipisahkan oleh kematian. Seperti hal nya saya dan kamu. Tiga tahun berpisah tidak serta merta menjadikan kita menjadi sosok yang tak saling kenal. Kamu menantang idealisme kamu di sebuah perusahaan multinasional dan terdampar di pinggir Kalimantan. Tempat kamu bebas mencurahkan pikiran, rasa, juga asa tanpa ada batas, karena di sana kamu benar-benar menjadi dirimu sendiri.

Selalu, dengan cara yang tidak biasa. Dengan kemungkinan yang menurutmu tingkat presisinya sangat kecil, Tuhan menyambungkan kembali hati dan pikiran kita, dengan cara yang tidak biasa tentunya. Di malam yang sepi, saya memandang ke tepi jendela kereta api ekonomi menuju Malang. Ketika teman-teman saya terjebak dengan perbincangan tentang Tuhan. Ada pesan singkat yang menarik perhatian saya, menarik pikiran Saya, menarik hati Saya kembali. Ah, sudah lama sekali tidak bertegur sapa. Mendapat sebuah pesan singkat dari seorang sahabat lama rasanya lebih hebat dari sekedar mendapat durian runtuh (sebut saya lebay *sigh).

Ya, one thing lead to another. Perbincangan kita menjadi lebih berkembang. Dari yang awalnya kaku (maklum jedanya agak lama) sampai kemudian bisa cair kembali. Saya merasa kamu kembali, menjadi sosok sahabat saya yang saya kenal dulu. Obrolan demi obrolan membawa kita pada ajakan-ajakan untuk bertemu meskipun malu-malu. Hingga pada akhirnya, kamu kembali ke Bogor dan Saya kebetulan juga harus menghabiskan liburan Saya di sana. Ah, Bogor..tempat saya menemukan keping diri saya yang lain, yang membuat ingatan saya berziarah. 

Kamu, mungkin status sosial kamu sudah banyak berubah sekarang. Jabatan, Wanita yang selalu memujamu, dan Harta yang kini ada di genggaman terkadang membuatmu terlihat seperti orang lain. Saya ragu untuk mengajak kamu kemah, atau menantang kematian memanjat tebing licin di kala hujan, masihkah kamu mau? Berlelah menapak bebatuan, kehujanan, kebasahan tanpa pelindung? Saya sedikit ragu, dan semoga Saya salah tentang ini.

Satu minggu di Bogor tidak membuat Saya leluasa berbincang dengan kamu, karena satu dan lain hal yang membuat kita tidak banyak punya waktu berdua. Di kesempatan yang menurut Saya jarang terjadi, Saya mengajak kamu untuk bertemu di Jakarta, dan tentu saja kamu menolaknya. Bogor terlalu indah dan magis untuk ditinggalkan.
 ***
Selasa, satu hari sebelum ulang tahun kamu, hari yang cerah untuk berbincang. Saya dan kamu menikmati Bogor dari tempat yang agak tinggi. Makan siang, ditemani derasnya aliran sungai. Sambil menatap buku menu, saya sangat tertarik dengan menu-menu yang disajikan, rasanya ingin menyantap semuanya, tapi rasanya tidak mungkin karena perut saya tentu tidak cukup menampung semua makanan itu. 

Terlarut, saya dan kamu dalam obrolan-obrolan remeh temeh dan serius. Bunyi semdok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi musik pengiring perbincangan kita. Persahabatan memang selalu teruji peristiwa dan waktu. Saat berbincang dengan kamu, saya merasa ada yang berubah dari gaya kamu, tapi tidak dengan karakter kamu. Masih corelis-melankolis, narsis, acak-abstrak juga kontemplatif. Sesungguhnya kita lebih bayak diam saat itu. Mengobrol panjang, lalu diam lama..memandangi sungai, juga burung elang yang terbang bebas. Diam bersama kamu selalu beda, rasanya seperti sudah memuntahkan seluruh isi perut, tanpa perlu banyak kata.

***

Jeda panjang kita pada akhirnya dipecahkan oleh sebuah keinginan untuk mengunyah kembali. Maka kita sepakat untuk memesan makanan kembali. Kamu memilih siomay dan yoghurt, dan saya memilih pisang goreng. Sungguh, menu-menu yang tersaji sangat menarik, rasanya ingin mencoba semuanya. Tapi, lagi-lagi perut saya tentu tidak cukup untuk menampung semua itu. Kamu, seperti biasa hanya lapar mata.

Saya melahap pisang goreng saya dengan nikmat yang sama ketika saya menyantap sup iga. Tapi kamu, menyantap siomay dengan nikmat yang terpaksa. Sebenarnya kamu sudah merasa cukup, tapi gambar siomay di buku menu memang sungguh menggoda.

Mengingat satu dari lima siomay yang tersisa, di mana 3 siomay lainnya adalah saya yang memakannya, kita berhenti pada satu kata "cukup"sudah kenyang. Harus ada kata "cukup". Jika kita hidup untuk makan, akan banyak sekali menu-menu menggoda yang hadir di depan mata, dan selalu menggoda untuk diicip. Entah dari mana asalnya, perut dan pikiran kita selalu memilih menu terbaik untuk dimasukkan ke perut dan memuaskan pikiran. Untuk menu-menu menggoda yang lainnya, kita bisa bilang "cukup" saya sudah kenyang, Alhamdulillah.

Sama seperti siomay yang pada akhirnya tersisa. Hidup kita, hati kita juga punya kapasitasnya sendiri. Mungkin akan tiba waktunya kamu akan berkata "cukup" untuk tawaran-tawaran yang menggiurkan, untuk godaan-godaan yang datang. Bukan karena kamu tidak suka akan kemilaunya, tapi karena kamu sudah merasa "cukup" dengan apa yang kamu punya. Memilikinya berlebihan tidak akan membuat kamu bahagia. Sama seperti menghabiskan satu siomay yang tersisa hanya akan membuat perutmu begah. Biarkan ia tersisa, karena perut dan pikiranmu berkata, ini sudah "cukup", meskipun sebagai manusia yang memiliki otak komodo kita tidak akan pernah merasa cukup.

Nicholas Saputra, dalam perannya sebagai Yusuf di Film 3 Hari Untuk Selamanya (you have to watch this movie) ada potongan dialognya begini "..........saat usia kita menginjak angka 27 dan 29 kita akan mengambil keputusan penting dalam hidup kita yang akan merubah diri kita......"
Mudah-mudahan di usia kamu yang sekarang dan nanti kamu bisa terus mengambil keputusan-keputusan penting tersebut. Bisa mengatakan "cukup" untuk petualangan mencari "the one". Berani jujur pada diri kamu sendiri, dan berkata "cukup" untuk hal-hal yang membuat kamu tergoda. Cukup bilang.  "alhamdulilah, saya sudah kenyang".

Terima kasih untuk waktu luangnya. Entah harus menunggu berapa tahun lagi untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Semoga nanti, ketika kita bertemu kembali, kamu sudah punya jawaban dan tahu kapan waktunya bilang "cukup", dan meninggalkan yang tersisa.






Minggu, 04 Januari 2015

Mengingat Anicca, Dukkha, Anatta

"Apakah kamu pernah menangis"

Ini adalah salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan oleh user, tempat saya melamar pekerjaan. Cukup lama saya terdiam, dan tidak selancar menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya. Karena sungguh, bagi saya itu adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Pernahkah? Pasti saya pernah menangis. Kapan dan karena apa? Saya tidak mengingat detail. Saya hanya ingat, saya pasti menangis jika ada masalah di keluarga saya, atau ketika saya berpisah dengan teman hidup saya. Itu pun, bukan peristiwa yang sering terjadi. Karena film? Tidak, tugas yang berat? Tidak, kematian? rasanya tidak.

Tidak menangis bukan berarti saya tidak sedih. Kehilangan, ada rasa sedih? pasti. Tapi saya memilih untuk tidak menangis. Saya hanya ingat satu quote yang saya tidak ingat sumbernya, kira-kira bunyinya begini "Nasib buruk mungkin tidak bisa kita hindari, tapi merasa sedih adalah sebuah pilihan."

Tahun 2014 adalah tahun kemelakatan bagi saya. Loh? Kenapa jadi bahas tentang kemelekatan? Karena rasa sedih dan bahagia pun bersumber dari sana.
Selepas bertugas di Tulang Bawang Barat, ada banyak sekali mimpi-mimpi dan rencana yang ingin saya jalani. Ada juga rasa rindu yang tertahan untuk bertemu dengan lelaki yang harumnya seperti rumah. Saya begitu menggantungkan hidup pada hal-hal ini. Ada juga rencana untuk menjajaki hubungan yang lebih serius, pun ini menjadi dasar saya untuk mengambil keputusan yang lain. Saya begitu melekat padanya, pada dia yang harumnya seperti rumah, pada rencana dan mimpi-mimpi. Hingga pada nyatanya, justru Saya menjadi takut untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Seperti ketika saya ada tawaran untuk bekerja di luar pulau, saya jadi takut untuk menerimanya, takut apabila hubungan jarak jauh yang akan dijalani justru menjadi penghalang bagi rencana besar bersama. Ketakutan ini semakin menumpuk, dan tanpa disadari justru berefek negatif. Otak komodo saya tidak terpuaskan karena keinginan saya tidak tercapai, juga tertekan oleh rasa takut. Efeknya? Saya seperti hilang arah, tidak tahu harus ambil keputusan apa.

Sampai pada akhirnya Saya kembali "pulang" pada rumah saya, "Tim Expos" tempat saya bisa melepas juga mengendalikan otak komodo dan kancil saya yang begitu liar. Saya mengaktifkan kembali radar-radar kesadaran saya. Mengaktifkan kembali kepekaan untuk bersyukur. Perlahan, Saya mulai membaik.

Tuhan yang maha baik juga mengingatkan saya untuk tidak melekat. Selain belum mendapatkan tempat belajar yang cocok bagi saya, di tahun 2014 saya kehilangan seluruh memori dalam hard disk laptop saya, saya kehilangan sosok yang harumnya seperti rumah, saya juga merasa kehilangan beberapa jejak jejak penting yang sudah pernah saya toreh. Ya, di saat itu saya terhempas....saya merasa sendirian, berada di titik nadir.

Tapi percayalah, Tuhan sungguh adil. Di Tahun 2014 juga saya bertemu dengan orang-orang hebat. Hubungan persahabatan saya dengan Faris dan Dina juga semakin baik. Kami bisa berteman layaknya orang biasa yang tidak pernah berkonflik sebelumnya. Saya berkenalan dengan Mas Edi Dimyati yang ternyata beliau adalah aktivis rumah baca, penulis buku dan pecinta museum. Teman-teman di Kelas Inspirasi, SabangMerauke, dan sahabat-sahabat lainnya yang begitu menginspirasi saya.

Mungkin hal-hal yang bersifat bendawi (partner, hard disk, pekerjaan) seakan menjauh dari saya. Akan tetapi, saya justru mendapatkan kelimpahan yang tiada tara dengan hadirnya sahabat-sahabat hati, yang membuka ruang-ruang inspirasi. Rasanya hati saya terbuka begitu lebar saat ini. Siap untuk menampung apa saja.

Teringat dengan obrolan bersama Mas Pras saat di berboncengan di motor, kami berdua menelusuri jalan sepi dari Kebagusan menuju Bekasi. Mas Pras cerita, ada tiga hal yang dipegang oleh para buddhis, yaitu Anicca (Tidak Kekal), Dukkha (Penderitaan) dan Anatta (Tiada Diri). Lebih lengkapnya bisa di baca Di sini.

Mungkin, ketiga tanda keberadaan atau kemelakatan tersebut hadir untuk menjadi pengingat saya. Membuat saya menoleh sejenak dan merefleksikan hal-hal tersebut pada diri saya. Bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, baik suka ataupun duka. Pun, memang semua yang ada di dunia hanyalah titipan, terlalu melekat membuat kita takut kehilangan, padahal niscayanya, segala hal bendawi hanyalah sebentuk titipan yang harus kita jaga. Jika sewaktu waktu sang Empunya ingin mengambil miliknya, seharusnya dengan ikhlas kita mengembalikannya bukan?

Sebagai catatan di awal tahun, saya menuliskan tujuan-tujuan serta mimpi-mimpi yang ingin saya capai di tahun 2015. Tapi kali ini dengan perasaan jauh lebih ikhlas, karena menyadari bahwa tidak ada yang abadi selain keabadian itu sendiri, tidak ada yang pasti selain ketidakpatian itu sendiri, dan segala hal yang saya terima, hanyalah sebuah titipan. Jadi? kenapa harus gelisah dan menjalani hidup penuh kekhawatiran?

Khawatir atau tidak, gelisah atau tenang adalah sebuah pilihan, baik memilih salah satu ataupun keduanya, hidup tetap harus berjalan. Jadi, kenapa harus memilih jalan yang pelik?

Di awal tahun ini saya sungguh bersyukur atas hal-hal yang saya terima di tahun sebelumnya, di tahun ini, juga tahun-tahun yang akan datang. 

Jadi, Apakah saya pernah menangis?tentu pernah...karena sedih?sedikit, lebih sering karena bahagia yang tertampung.


If everything has been written down, so why worry? 
-Dee, Grew a day older-

Rabu, 31 Desember 2014

After 3 Years

Sudah 3 tahun, sejak kita tidak lagi berbagi mimpi yang sama
Senang rasanya melihat kamu baik-baik saja
Senang juga rasanya kita bisa berteman kembali
Sungguh, tidak ada yang kekal. Bahkan untuk ku, butuh waktu untuk bersabar, 3 tahun lamanya menanti kamu, sahabat yang pergi lalu kembali lagi.
Mungin benar, bersabar adalah salah satu perjuangan untuk menanti seorang teman, kekasih, sahabat, kembali ke peraduan. 
Terkadang, perhatian yang berlebihan justru menyesakan, setiap orang butuh jeda, spasi, untuk dirinya sendiri. 
Meskipun butuh waktu 3 tahun
Dan entah, sampai berapa lama Aku bisa dengan bebas menyapamu.
Sampai nanti habis waktumu, dan kembali terbang..menuju dunia tanpa batas

Menyambut Tahun yang Baru

Bunyi petasan dan terompet mengiringi pergantian tahun 2014 menuju 2015. Ada yang berbeda di penyambutan tahun kali ini. Aku di rumah, merayakan tahun baru bersama diri sendiri. Sungguh sebuah kemewahan yang tidak berlebihan rasanya. Mengingat 4 tahun ke belakang Aku selalu merayakan tahun baru di negeri orang. Sungguh berbeda rasanya, 4 tahun ke belakang meski tahun baru di perantauan, Aku bisa merasa hening yang berbeda, yang hikmat. Di rumahku, meskipun sendirian, rasanya begitu bingar. 

Biasanya setiap orang akan sibuk dengan resolusi masing-masing untuk memulai tahun yang baru. Bagiku, resolusi adalah sebuah tujuan yang akan dicapai setiap tahunnya. Resolusi tidak perlu aku buat ketika menyambut tahun baru. Aku bisa membuatnya setiap bulan, minggu, bahkan hari. Ini adalah semacam penyemangat, agar hidup tidak mengalir begitu saja seperti air. Karena hidup, begitu berharga untuk sekedar di lewatkan begitu saja.

Semoga, di tahun-tahun berikutnya kita mendapatkan apa-apa saja yang kita impikan. Menengok kembali tahun-tahun yang sudah lewat membuatku begitu takjub akan nikmat Tuhan, Begitu banyak pencapaian serta nikmat-nikmat yang tidak terkira jumlahnya. Ah, terkadang Aku hanya perlu meluangkan waktu sebentar untuk merenung kembali akan nikmatnya.

Sempat aku berpikir bahwa tahun 2014 adalah salah saru titik nadir dalam hidupku. Tak punya tujuan, tanpa arah, bahkan ada target yang tidak tercapai dan hujanan masalah yang tak kunjung usai. Mungkin, ini adalah cara Tuhan untuk mengingatkan Aku akan nimmatNya yang tiada tara. Sekarang, ketika aku melihat kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi di 2014, rasanya ingin kutampar diriku sendiri yang tak bersyukur. Begitu banyak nikmat Tuhan yang aku dustakan.

Kini, dari sudut sempit ruang tengah, Aku berefleksi dan berafirmasi. Menuliskan tujuan-tujuan yang ingin Aku capai di tahun 2015. Dengan ini, Aku menyambut Tahun Baru dengan rasa senang, juga rasa syukur yang tak terkira.

Sabtu, 20 Desember 2014

Tentang Nikmat dan Kebetulan yang Teratur

 "Maka, NikmatNya yang manakah yang akan kau dustakan?"

Kutipan di atas bukan sekedar kutipan sebuah ayat yang sering saya baca. Kutipan tersebut lebih tepat disebut sebagai kalimat refleksi, sebuah anchor bagi saya untuk mengingat kembali nikmat nikmat yang sudah saya habiskan selama ini. Terlebih ketika saya dengan semangat bersungut sungut mengeluh tentang macet, kekasih yang ingkar janji, orang tua yang tidak mau mengerti atau kantong yamg belum terisi. Ah, sungguh jika disadari, pantaskah saya bersungut sungut di atas semua nikmat yang sudah Ia berikan? rasanya tidak.

Saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai makna kutipan di atas, atau mengupas sebuah ayat, sungguh bukan kapasitas saya. Saya hanya ingin menekan kembali titik pengingat saya akan nikmatNya yang tiada henti diberikan pada saya. 

Tepat 2 hari yang lalu, saya mengikut kelas mengenai "Design Thinking" di MakeDoNia Makerspace di bilangan Jakarta Selatan. Awal saya mengikut kelas ini dimulai dari ketidaksengajaan ketidaksengajaan yang terjadi secara berurutan. Berawal dari sebuah buku berjudul "Creative Confidence" karya Tom and Davie Kelley














Saya mendapatkan buku ini dari Pak Putu Kresna yang merupakan GM Divisi Organizational Learning BNI, tempat saya pernah belajar. Beliau memberikan buku ini kepada saya sebagai bentuk apresiasi beliau pada saya. Sungguh, pemimpin seperti beliau perlu banyak di negeri ini. Saya bersyukur bisa membaca buku ini karena di buku ini pikiran saya mengenai kreatifitas sungguh terbuka. Awalnya saya selalu merasa rendah diri bila dihadapai dengan hal-hal yang berhubungan dengan seni. Saya akan stress jika diminta untuk menggambar, akan sangat malu bila bernyanyi di depan umum, dan hampir seluruh karya seni saya di sekolah adalah hasil karya teman saya. Buku ini menjelaskan bahwa kreatifitas bukan hanya pemilik orang yang bekerja di bidang seni. kreatifitas bukan bawaan lahir, ia bisa dibentuk, dan siapa pun bisa menjadi kreatif serta tidak ada bagus atau jelek. Yang ada hanya pembelajaran terus menerus. Penulis buku ini adalah penggagas sebuah perusahaan Desain yang bernama IDEO (untuk lebih jelasnya silahkan tanya mbah google hehe). Di IDEO, mereka percaya bahwa semua orang kreatif dan semua orang berhak untuk salah lalu mencoba lagi sampai ketemu bentuk yang ideal. IDEO juga mengusung prinsip kolaborasi, di mana orang dari berbagai bidang dan latar belakang bisa berkontribisi di sini, asalkan memiliki passion dan misi yang sama. Saya sangat tertarik ketika membaca buku ini. Saya membayangkan bagaimana rasanya berada di sana. Bekerja sama dengan orang dari berbagai bidang dan keahlian, serta tidak merasa malu jika berbuat salah.

Cerita dan pembehasan mengenai IDEO serta isi buku tersebut tidak berhenti sampai di halaman terakhir buku. Bagaikan skenario sebuah film, saya serta 2 orang teman saya membahas hal ini di kereta dalam perjalanan dari Jakarta menuju Malang.Ternyata bahasannya berkembang menjadi sebuah topik yang sangat menarik. Tidak berhenti sampai di situ, satu minggu kemudian Mba Dina dari MakeDoNia Makerspace mengirim ajakan untuk hadir di kelas "Design Thinking" dengan menghadirkan pembicara salah satu mantan karyawan IDEO Shanghai Amelia Hendra. Saya sangat tertarik, dan rentetan kejadian ini terasa seperti sebuah kebetulan yang teratur (meskipun saya percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini). 

Saya kemudian memutuskan untuk hadir di kelas tersebut, dan merasakan banyak sekali pelajaran yang saya ambil, terutama mengenai cara berpikir. Dari bagaimana caranya memunculkan sebuah ide, menggali hal-hal menarik mengenai ide tersebut, membuat rancangan prototype, mencobanya, gagal, lalu mencoba lagi, gagal lagi, coba lagi sampai akhirnya tercapai bentuk yang ideal. Bagi saya hal ini menarik sekaligus reflektif, betapa saya pribadi akhir akhir ini kerap cepat menyerah ketika saya terjatuh. Dengan mengikuti kelas ini saya jadi berefleksi kembali, dan menekan tombol anchor saya bahwa tidak ada nikmat yang bisa didustakan. Betapa saya patutnya bersyukur bahwa saya berkelimpahan dan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan membawa saya pada kemajuan.

Mengenai nikmat, kelas Design Thinking, serta urutan kebetulan yang sangat rapi saya bisa mengatakan bahwa tidak ada yang kebetulan. Benar adanya firman Tuhan yang mengatakan "Mintalah apa yang engkau minta, niscaya akan aku beri". Barangkali, dengan cara yang sungguh tulus dan tidak disadari saya sudah meminta kepada Tuhan untuk bisa belajar lebih jauh mengenai Design Thinking.


Jumat, 12 Desember 2014

Senin, 13 Oktober 2014

Three Weeks in A Row



Hubungan antara dua insan memang masih menjadi sebuah misteri. Misteri antara dua hati yang berbeda. Hari ini saling mencintai, esok bertengkar lalu berujung perpisahan. Bertahun-tahun menjalani hubungan seperti sepasang kekasih, minggu depan bersanding di pelaminan dengan wajah yang berbeda.

Hubungan, pacaran, bukan akhir tapi proses. Sedang menurut orang bijak, pernikahan adalah awal menuju kehidupan yang sesungguhnya. Sebuah fase wajar yang dilakukan insan Tuhan. Pun, bukan dosa besar bila memilih untuk melajang seumur hidup.

Tiga minggu ini saya menghadiri tiga pesta pernikahan orang-orang yang dekat dengan saya. yang pertama adalah teman SMP, yang kedua adalah sahabat saya, sedang yang ketiga adalah orang yang pernah punya sedikit hubungan spesial dengan saya. Meskipun tiga-tiganya adalah pesta pernikahan, tetapi ketiganya memiliki nuansa magis tersendiri.

Saya menghadiri ketiga pesta tersebut sendirian (baca : tanpa dia yang baunya seperti rumah). Di pesta pertama, saya seperti kembali ke masa lalu. Masa-masa sekolah, bertemu dengan wajah-wajah yang sama yang dulu sering saya ajak bercanda, yang dulu sering saya ajak berbincang. Yang berbeda adalah status mereka sudah banyak berubah, ada yang sedang menyiapkan pernikahan, ada yang sudah menikah, dan ada yang sudah menimang anak. Satu hal yang tidak berubah adalah ingatan tentang kenangan masa lalu, juga senyum di wajah mereka. Bertemu kawan semasa sekolah adalah keajaiban bagi kami yang sudah hidup masing-masing terpisah jarak dan kasta. Di pesta penikahan, kami menyatu, riang dalam tawa dan doa mengiringi sepasang mempelai. Pasangan ini sudah berpacaran selama tujuh tahun, dan Tuhan menyatukan mereka dalam ikatan suci.

Pesta kedua bertempat di sebuah gedung agak megah. Terkesan glamor, orang yang hadir mungkin tidak sekedar ingin mendoakan pengantin, tapi juga pamer gengsi. Ketahuilah, sahabat saya menikah bukan dengan pacarnya, tetapi dengan mantan pacar yang sudah lama ia tinggalkan. Sekali lagi, hubungan adalah sebuah misteri. Di sini saya mengikuti proses dari akad nikah, saya selalu haru di sini. Akad nikah adalah momen sakral, di mana sang lelaki menyatakan siap meminang sang perempuan dan bertanggung jawab dan menyatakan siap menjalani hidup bersama. Saat ini adalah saat paling berani yang dilakukan oleh laki-laki. Saya selalu meneteskan air mata pada proses ini. Haru ketika kedua mempelai yang sudah resmi memohon restu dan sungkem, tanda berserah, meminta maaf atas semua kesalahan, juga pamit untuk melanjutkan hidup baru dengan pasangan pilihannya. Kelak saya ingin akad nikah saya dihadiri dan disaksikan oleh banyak orang-orang yang dekat dengan saya.

Yang ketiga, pesta pernikahan orang yang sempat menjadi salah satu yang spesial bagi saya. Berlangsung di rumah. Tidak banyak hingar bingar, pun tidak banyak yang saya kenal. Saya datang bersama teman-teman satu tim taekwondo. Kami saling memberi selamat dan melempar senyum bahagia. Butuh cukup keberanian untuk hadir di pesta ini. Sambil menyalami kami saling melempar senyum penuh makna tanda sudah saling melepaskan, dan dia berpesan "cepat nyusul ya", yang kemudian saya balas dengan senyum dan sebuah anggukan. Bercampur antara senang dan sedikit sedih.

Hubungan antara dua insan selalu penuh dengan misteri. Yang sekarang menjadi kekasihmu belum tentu yang kelak akan menemanimu seumur hidupku. Harapku, semoga lelaki yang baunya seperti rumah dapat menemani aku selamanya