Senin, 01 Agustus 2011

http://caping.wordpress.com/

http://caping.wordpress.com/

Hatimu Sahabatku, Terima Kasih

Terima kasih sedalam dalamnya aku ucapkan untukmu sahabatku

Untukmu yang mampu membuatku tertawa ketika aku sedang terjatuh
Untukmu yang selalu mendengarkan ceritaku tanpa perlu aku tahu kamu suka atau tidak dengan ceritaku
Untuk kamu yang tidak pernah memaksaku untuk bersalin rupa ketika bertemu denganmu
Untukmu yang tidak pernah keberatan aku bersandar di bahumu, tertidur di pangkuanmu dan mencetak lukisan pulau tak bertuan di bantalmu...

Untuk hati yang selalu siap menampung amarah dan luka
Untuk hati yang siap menampung canda dan hal bodoh yang sering aku lakukan
Hanya kamu yang mampu membuatku menjadi diriku..
Untukmu yang senang melihat caraku makan tanpa perlu memperhatikan table manner..
Untukmu yang siap menyeka air mata dan selalu menjadi orang pertama yang hadir setelah aku melewati hari yang buruk
Untukmu yang membawakanku sekotak coklat warna warni saat hariku begitu berat...

Untukmu yang selalu membuatku merasa hangat, bukan dengan selimut yang tebal tapi dengan bijaknya tutur kata
Untukmu yang membuatku merasa kaya, bukan dengan sebongkah intan berlian tapi dengan kesederhanaan yang tiada tara, ruang hati yang luas untukku berbagi duka...
Terima kasih karena memberiku tempat paling nyaman sedunia, bukan beralaskan marmer mahal, tapi beralaskan kesabaran. telinga yang selalu tersedia untukku...
ruangku untuk merindumu..
tempatku bertelanjang tanpa perlu di caci...

Hatimu sahabatku, terima kasih....

Aku Mulai Memaafkanmu

Matahari selalu memberi senyum terbaiknya setiap hari, dan seperti tanpa beban. penuh kasih memberi sinarnya pada siapa saja...meski banyak dari kita tidak bersyukur atau berterima kasih pada matahari. dan matahari hanya tahu mengenai pemberian, memberi tanpa pamrih..

seperti sebuah pemberian, pemaafan harus disertai dengan ketulusan
menahun saya mendendam tanpa pemaafan...
mendendam pada keluarga, pada cinta, pada sejarah, pada suku saya, pada darah yang mengalir di daging saya dan segala hal yang saya kubur dalam-dalam. bersama luka yang terus ada tanpa pemaafan...

pemaafan yang dipaksakan tentunya akan menjadi pemaafan yang prematur
dan tidak akan pernah selesai. pada akhirnya saya memilih untuk tetap menyimpan dendam itu, luka itu dan rasa benci yang membuat saya mengumpat tiada henti. menyalahkan keadaan yang saat ini saya alami
bukan saya tidak ingin memaafkan, entah kenapa hati ini belum sungguh sungguh bisa memaafkan, dan ya...saya tidak ingin pemaafan yang prematur tentunya...

apakah memaafkan harus segera? saya rasa tidak, kita boleh menyimpan luka dan kebencian berapa pun lamanya, sampai pada akhirnya rasa lelah itu akan muncul. rasa lelah untuk membenci, dan berubah menjadi netral..pada saat itulah memaafkan dapat dilakukan, berdamai dengan diri sendiri
ini tidak dapat dipaksakan, akan tiba waktunya perasaan ini menjadi netral dan kebas, perlahan mulai berdamai pada diri sendiri dan yang terpenting, hati ini mulai bisa memaafkan "dirinya sendiri"
sungguh pemaafan yang luar biasa..

saya termasuk orang yang traumatik, entah sudah sedalam apa trauma ini saya kubur dalam-dalam..
trauma mengenai perceraian, keluarga yang tak lagi utuh..
trauma yang menyisakan luka dan rasa takut untuk membangun sebuah keluarga..
seiring berjalannya waktu, trauma ini membeku tetapi tidak sembuh
sampai pada suatu saat dalam sebuah perkumpulan, saya disadarkan bahwa hidup hanyalah pengulangan dan trauma yang sama mungkin akan timbul lagi menorehkan luka yang lebih dalam. untuk menghindari efek yang tidak baik bagi hati dan tubuh, berdamai dan memaafkan itulah cara terbaik
tidak perlu dipaksakan, hati akan tahu kapan tiba saatnya ia siap untuk memaafkan...

memaafkan apa apa saja yang pernah terjadi di masa lalu..
dapat berdamai dengan diri sendiri sungguh membahagiakan...
percayalah, dirimu adalah sumber kekuatan dan kelemahan dimana di dalamnya bersemai benih cinta kasih...

luka itu yang tertutup dan tertambal selalu menyisakan bekas luka
bekas luka yang mengingatkan kita pada peristiwa tertentu
memang, hidup kita bukan diukur dari setiap menit yang kita lalui, tetapi dari momen hidup yang pernah kita lewatkan..
ingatan tetangmu mungkin dapat dilupakan tetapi kenangan itu tidak akan pernah mati
dan disini, aku mengenangmu dalam diam


sometimes, memories are best kept hidden

aku memilih mengenangmu dalam diam
dan dalam suasana yang damai
aku mulai memaafkanmu.....

Jumat, 22 Juli 2011

Beautiful You


"Rei, aku cantik ga sih?"
Suatu siang ketika kamu sedang tiduran di pahaku sambil menebak bentuk awan..
Aku tersentak, terbangun dari lamunanku tentang bayangan imajimu yang tergambar di langit..
Aku terdiam
Dan kau bertanya sekali lagi..
"Reeiii…." kali ini dengan nada mengalun kesal
"iya sayang" aku membelai rambutnya lembut
"aku cantik ga?"
"cantik, emangnya kenapa?" agak bingung sebenarnya mendengar Rena bertanya hal ini untuk pertama kalinya..
"cantik itu apa Rei? Aku ga tinggi, kurus kering lagi, betisku gede, rambutuku ikal dan coklat. Ga hitam kaya gadis yang di iklan shampo. Aku masih cantik ga"
Entah harus menjawab apa, yang pasti aku dibuat bingung oleh pertanyaannya yang seperti itu. Ada apa dengan Rena ku  yang biasa tampil apa adanya…

*****
" Kamu cantik Rena, seperti ini. Seperti Rena yang aku kenal."
"Bohong, kamu pasti Cuma menghibur aku aja!"  katamu sambil merajuk
Ah, sesungguhnya kamu menjadi semakin cantik ketika sedang merajuk seperti ini, dengan bibir yang sedikit maju ke depan, alis yang berkerut, tatapan manja dan tangan yang memilin lengan baju. Kamu terlihat sangat cantik seperti ini…

"Ga Rena, kamu cantik koq…"
"Coba Rei, menurut kamu cantik itu apa? Kamu mau jadi pacar aku karena dulu aku cantik ya?masih bagus badannya, ga kurus kering kaya sekarang?"
Ah, perempuanku sedang sensitif perasaannya dan aku harus berhati hati dalam menjawab. Salah sedikit bisa mati aku tidak dajak biacara satu minggu.

"Rena, cantik adalah sebuah jawaban bukan pertanyaan. Kalau aku ditanya, "kenapa kamu suka sama Rena? Aku jawabnya karena Rena itu cantik. Tuh kan, cantik itu jawaban. Bukan pertanyaan. Terus ya, kalau ada seorang suami yang ditanya, mengenai alasannya memilih istrinya. Pasti jawabannya karena cantik juga, walaupun menurut orang lain istrinya sama sekali tidak cantik. Jadi Rena, sebenarnya cantik itu relatif."

Ya Rena, menurutku cantik itu bukan dilihat dari warna kulit yang seputih salju, kakinya yang tinggi jenjang mulus seperti kaki meja, rambut lurus hitam pekat, hidung mancung, wajah balsteran, bibir seksi dan tubuh langsing seperti gitar Spanyol. Ya, meskipun perempuan dengan fisik yang indah dan penampilan yang menunjang memang sangat menarik, aku tidak menafikannya bukan? Tapi Rena, bukankah tidak adil. Membuat dikotomi cantik dan tidak cantik bila hanya sesuatu yang bersifat lahiriah menjadi tolak ukurnya?
Lalu bagaimana nasib perempuan yang berkulit hitam, hidung pesek, kaki yang pendek. Apakah mereka juga tidak cantik? Apakah mereka juga tidak bisa mendapatkan jodoh? Sungguh Rena, menurutku itu tidak adil… Tuhan menciptakan kita dengan sempurna. Wajahmu adalah wajah Tuhanmu, tempat segala kebaikan dan keburukan terpancar. Kurang Sopan rasanya menghina ciptaan Tuhan, karena itu berarti menghina penciptanya juga… ^^v

Rena cantik merupakan sesuatu yang terpancar dari dalam hati, kebaikan, kerendahan hati, ketulusan. Hal seperti itu yang membuat perempuan menjadi terlihat cantik, dan memang seperti itu nyatanya. Rena, jangan takut untuk memiliki badan yang besar, karena orang  yang berbadan besar memiliki hati yang besar, yang dapat menampung lebih banyak air mata dan kebahagiaan, serta dapat berbagi lebih banyak senyum dan tawa dan jangan takut juga bila sekarang kamu menjadi kurus, karena kurus tidak berarti kamu sekarat, bukan? Rena, cantik juga bukan berarti tidak berubah. Perubahan memang sesuatu yang sulit, tapi percayalah tidak berubah sedikit pun jauh lebih buruk. Aku tahu, tubuhmu nanti bisa jadi semakin besar, atau semakin kurus, keriput di wajahmu akan semakin banyak, dan rambutmu akan berubah warna dan rontok.  Jangan takut Rena, karena aku pun pasti begitu. Aku akan sangat ngeri ketika kulit kamu tidak berkerut, rambutmu tidak berubah warna dan tubuhmu tidak berubah. Itu berarti kamu menggunakan pengawet untuk mempertahankan kecantikan itu, ah seperti mayat hidup saja. Aku jadi takut mendengarnya…

Untukku, cantik itu apa adanya sayang, ketika kamu tersenyum dengan tulus. Bibirmu mengembang indah tanpa kepalsuan dalam balutan lipstik. Tanganmu menari riang di tengah taman yang indah dan kulitmu bercahaya tanpa balutan pemutih, kakimu berlari riang tanpa perlu memakai high heels yang kerap membuat kakimu lecet. Dan wajah ayu mu yang polos tanpa balutan foundation dan kawan kawannya itu. Aku senang melihatmu begini, cantik sempurna tanpa riasan. Ku akui kamu sedikit kurus sekarang, biarlah yang terpenting ukuran hatimu tetap besar…

Rena, kamu boleh tetap berdandan. Tapi bukan untukku, karena aku menyukaimu begini. Yang polos tanpa topeng…

"Rena, kamu cantik selamanya tetap cantik" sambil mengecup keningmu, kututup ceritaku. Mencium wangi lembut rambutmu ..

"Ya Rei, aku cantik ya. Nanti kalo rambut aku rontok karena kanker ini, kamu tetap sayang aku? Tetap mau cium kening aku?
"Ya Rena, pasti"


Kamis, 14 Juli 2011

Tuhan itu Satu Rena


Rena : "Rei, ada berapa Tuhan itu?"
Rei  : "menurutmu?"
Rena : "Ada satu atau dua mungkin, kemaren temanku memanggil Tuhannya dengan sebutan Yesus, si ahong memanggilnya budha, aneh lagi si Joko memanggilnya Gusti. halah, Pusing aku Rei, Tuhan ada berapa?"
Rei : "Rena, aku memanggilmu bidadari kecil. ibumu memanggilmu reren, dan bang somad tukang sate itu memanggilmu cantik. kamunya jadi ada berapa?"
Rena : "Aku tetep satu"
Rei : "begitu juga dengan Tuhan, namanya banyak. tiap orang manggilnya bisa beda-beda. tapi Tuhannya tetep satu, ga jadi dua atau tiga kan?"
Rena : "Hmmm...iya Rei, Tuhan tetap satu."
Rei : "Ya, jangan pusing-pusing lagi ya."
Rena : "Iya, Tuhan baik ya..dipanggil pake nama apa aja tetep nengok."
Rei : "Ya Rena, seperti aku. sekalipun kamu memanggilku "jelek" aku tetap nengok dan tersenyum buat kamu kan?"
Rena : "ya Jelek"
Rei : ^.^

Minggu, 10 Juli 2011

Tentang Keluarga

Ah, sayangnya kita tidak pernah dapat memilih di keluarga mana kita ingin dilahirkan
Memilih ayah yang hebat atau ibu yang super lembut
Kita hanya dihantarkan di dunia peralihan dan kita hanya dapat menjalani peran ini sebaik mungkin
Kau tak bisa memilih terlahir dari rahim yang mana atau dari keluarga yang mana. Kau hanya mengikuti kemana hidup membawamu pergi
Walau jalannya berbatu dan tak mudah tentunya, tapi percayalah sebagai wakil Tuhan, kamu punya misi untuk membangun rumah Tuhan di keluargamu
Ini misi rahasia dan penting. Tentunya tidak akan mudah, karena Tuhan telah memberkatimu otak yang canggih dan mutakhir mengalahkan mesin komputer jenis apapun. Berbanggalah dan selesaikan misi ini dengan baik
Terkadang kamu tertembak atau terjatuh,tapi ingatlah bahwa kemenangan mutlak akan kamu dapatkan ketika kamu dapat mengalahkan dirimu sendiri dan membuat keluargamu tersenyum bahagia
Kamu harus bangga, dengan bentuk keluargamu...

Minggu, 29 Mei 2011

Rindu (menulis)

Sudah lama aku tidak menulis sebuah cerita
Entah mengapa, apakah kemampuan menulisku kini kian menurun
Atau hasrat yang enggan menunjukkan dirinya
Entahlah, aku sudah lama tidak menulis
Dan aku merindukannya

Lebih dari tiga smester aku berhenti menulis
Berhenti menuliskan kisah tentang persahabatan dan segala lika likunya
Berhenti menuliskan kisah cinta yang penuh haru tawa dan fatamorgana
Mungkin aku lelah
Lelah menuliskan kisah yang terjadi
Lelah membacanya kembali
Masa lalu yang tertulis dalam tumpukkan kertas yang aku simpan rapi dan aku baca setiap tiga bulan sekali
Dan kini aku merindu
Rindu menuliskan kisah persahabatan dan cinta yang takkan habis dalam tiga malam
Rindu menitikkan air mata menyesali kebodohan-kebodohan yang pernah aku lakukan
Rindu tertawa terpingkal pingkal mengingat hal-hal konyol yang kerap aku lakukan bersamamu
Rindu menyesali kehilangan-kehilangan yang tidak kita sadari…
Entah mengapa, di pagi ini aku merindukanmu…

-------------
Kamu selalu menjadi sosok yang aku kagumi, dengan segala keangkuhanmu yang membuatku banyak belajar dan menyadari bahwa keangkuhan tidak akan pernah abadi…
Aku mencintaimu tanpa sederet alasan yang memberondong, aku hanya jatuh cinta. Itu saja, tidak perlu banyak alasan…
Dan kini, di pagi ini aku meresapi kembali energi itu…
Meskipun kini kita berada pada dimensi yang berbeda, tertatih melanjutkan kehidupan kita sendiri, mendaki puncak impian yang tergantung di langit malam
Memandangi setiap bintang di langit, dimana setiap bintang yang jatuh mewakili kehilangan-kehilangan kita, juga kenangan yang tak terlupakan
Mencintaimu seperti menikmati hujan yang turun, menikmati setiap rintiknya yang membuat tubuh menggigil, juga meresapi bau tanah yang lembut sehabis hujan turun. Dan seperti katamu, hujan membuat kita berhenti sejenak, untuk sekedar berteduh atau menoleh ke belakang. Menatap masa lalu yang terlewati, dan menganyam semangat untuk melanjutkan hidup di depan.
Kini hujan, membuatku merindumu…meski kini rasanya sudah tidak sama…
Terima kasih karena telah memberikan banyak hal untuk ku pelajari
Selamat meniti mimpi dan menjejaki perjalanan kehidupan yang penuh misteri
Aku menantimu di akhir musim hujan
Di ujung jalan dengan harapan dan rindu yang membuncah
Dan tentunya, aku menunggu kisah bahagia yang menemani langkah perjalananmu

---------------
Dan untuk sahabatku, terima kasih untuk penerimaan, petualangan, serta uluran tangan yang tak pernah putus
Kamu lah yang menyadari betapa rapuhnya aku, ketika aku merasa kehilangan
Katamu aku seperti siput, berlapiskan cangkang yang keras tetapi memiliki tubuh lunak di dalam
Seperti itukah aku?
Nampak tegar di luar tetapi memiliki hati serapuh kepingan es. Kamu tentu menyadarinya, dan ya.. Terima kasih karena telah menyadarkanku banyak hal…
Kamu menemani hari-hari gelapku
Menyalakan kembali lilin harapan yang meredup, menampilkan kembali cahaya hidupku yang tertutup kidung malam
Dengan sabar membawakan segelas air putih ketika aku terbaring sakit, dan meneleponku dengan nada khawatir berekor sederet nasihat yang tak kunjung henti…
Menyanyikan lagu selamat tidur di ujung telepon mengiringi lelapku, hingga kita sama sama lelah dan terlelap dalam diam, selagi telinga kita masih terhubung satelit.
Mengucapkan selamat pagi dan memberikan semangat untuk tetap berdiri, ya kamu sahabatku yang setia menemani hari-hariku...
Terima kasih atas genggaman tanganmu di saat masa-masa sulit, dan kini mungkin memang saatnya untuk melepaskan, karena kita semua harus belajar untuk tumbuh
Mendewasa, menatap cakrawala merangkai mimpi bahagia….
Dan kini, kamu melepasku, mengiringi langkahku untuk melanjtukan kehidupanku sendiri
Dengan tetap memperhatikanku dari jauh, tali ini tidak akap pernah putus
Dan kamu dengan setia mengingatkanku ketika aku lupa, tetap berada disampingku ketika aku meminta untuk sendiri, tetap menggenggam tanganku walau aku berusaha untuk melepasnya..

Terima kasih untuk telinga yang lebih sabar dari biasanya, mata yang menatap lebih lama, tangan yang terentang lebih panjang  serta  kelapangan hati yang luar biasa..
Aku mencintaimu sahabatku ^^