Percayalah, melakukan sebuah perjalanan bagaikan sebuah candu, tapi tidak bila perjalanan itu dilakukan tanpa perencanaan yang matang, sedang datang bulan, serta ada rindu yang menggantung. Sungguh, sebuah komposisi yang kacau. Namun, dibalik semua kekacauan yang ada, tersembunyi suatu makna yang indah, layaknya sebuah lukisan abstrak yang dibuat apa adanya, berantakan namu tetap mengandung keindahan.
Saya melakukan perjalanan sendirian untuk kesekian kalinya, namun kali ini tanpa perencanaan yang baik. Seperti misalnya, saya mau pergi tanggal 1, tapi saya belum cetak tiket sama sekali, saya mengandalkan injury time. Begitu juga dengan packing, saya baru packing H-2 jam sebelum berangkat. Sungguh!! ini betul-betul bukan cara saya menyiapkan perjalanan. Mengenai hasilnya? sudah tentu, tanpa perencanaan yang matang, saya seperti layangan putus mencari arah angin. Terburu-buru melakukan ini itu.
Saya baru ingat, kalau 1 Mei adalah hari di mana buruh di Indonesia melakukan unjuk rasa, sehingga imbasnya pada hari itu, lalu lintas tidak terkendali. Ditambah lagi hari buruh kali ini berdempetan dengan akhir pekan, lengkap sudah perjalanan saya kali ini berbarengan dengan arus orang-orang mudik. Jadwal KRL yang kacau, mesin cetak tiket mandiri yang penuh disesaki orang menjadi awal ketidaksesuaian rencana perjalanan saya.
Fiuh...kereta saya berangkat dari Ps. Senen menuju Cirebon pukul 16.30, dan saya baru tiba di stasiun Ps.Senen tepat pukul 16.30, tepat ketika kereta saya berangkat.Terdengar sayup petugas dari mesin pengeras suara memberi tahu bahwa kereta yang akan saya tumpangi akan segera berangkat. Saya pasrah, saya sadar saya sudah melakukan kesalahan. Saya memutuskan untuk mengantri di loket, berharap masih ada tiket kereta yang tersisa. Karena saya sudah terlanjur pamit, pantang rasanya untuk kembali pulang ke rumah, lalu bilang "saya ketinggalan kereta", sunguh ini sama sekali ga keren.
Tibalah saya pada giliran saya membeli tiket, antrian saat itu cukup pendek, tanpa pikir panjang saya langsung memesan kereta menuju Cirebon untuk pemberangkatan berikutanya. Saya hendak membayar menggunakan kartu debit karena saya tidak membawa banyak uang cash. Dan, yak...menit demi menit berlalu, pembayaran saya ternyata tidak bisa diproses karena ada gangguan jaringan pada mesin kartu debit BCA. Saya pun tidak punya pilihan lain selain mengambil uang cash dan mengantri ulang.
Setelah kembali dari menarik uang cash, antrian sudah mengular lebih panjang, dan saya mulai gusar tidak tenang. Seorang laki-laki mengenakan seragam Angkatan Darat menanyakan tujuan kepergian saya yang kemudian saya jawab sekenany karena saya sedang tidak mood berbasa-basi. Mas-mas ini sepertinya tidak bisa membaca bahasa tubuh saya sedang enggan diajak bicara, dia kemudian melanjutkan percakapan "ooh..mau ke Cirebon? kenapa ndak naik bus aja mba? Teman-teman saya yang ke Cirebon tadi pada berangkat naik bus." saya jawab sekenanya juga "macet mas." Mamase hanya membalas dengan "ooohhh" panjang. Lalu ia melanjutkan lagi, "Kuliah to? atau kerja"
"Kerja mas" jawab saya mulai bosan. Kali ini mamase sepertinya sudah mulai sadar kalau saya sedang tidak mood diajak basa basi.
Sampailah saya di dekat mulut loket, di depan saya, mamase ternyata memesan tiket bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk teman-temannya yang lain. Yak, memesan tiket yang banyak dengan tujuan berbeda-beda, jelas membutuhkan waktu yang cukup lama. Belum lagi, teman-temannya si mamase ini banyak tanya-tanya. Saya makin gusar. Di belakang saya, ikut mengantri juga dua orang turis perempuan, mereka mengantri untuk membeli tiket ke Jogja. Mereka pun tampak gusar, sama seperti saya. Di tengah kegusaran dan kelelahan menunggu, salah seorang turis bertanya pada saya "Kamu mau ke mana" yang saya jawab dengan "ke Cirebon", dengan wajah lega mereka menghela napas karena mereka pikir saya akan ke Jogja, mereka takut kehabisan tiket. Saya pun lanjut berbincang dengan mereka sambil menunggu mamase memesan tiket.
Kira-kira begini isi percakapan saya dengan mereka :
T(turis) : "Kenapa orang di depan kamu lama sekali"
S (saya) : "Oh, mereka beli tiketnya banyak, tapi tujuannya beda-beda mangkanya lama"
T : "fiuh...kami mau ke Jogja, dan terlihat di layar hanya ada 4 kursi tersisa"
S : "oh, yaudah nanti saya bantu tanyakan ke petugasnya ya
Sampai tibalah giliran saya, saya memesan tiket satu untuk tujuan Cirebon yang akan berangkat pukul 19.45 malam itu. Saya pun membantu turis itu (yang belakangan ketahuan bahwa mereka dari Prancis) untuk memesan tiket ke Jogja, dengan percakapan begini :
S : "Mas, tiket ke Jogja masih ada?"
M : "wah, sudah habis mba"
S : "Loh, tapi di layar masih ada 2 kursi katanya?"
M : "Ya tapi di sistem sudah habis, mungkin ada yang pesan dari stasiun lain mba"
saya mencoba menjelaskan kondisinya pada dua perempuan Prancis ini
S: "Sudah habis semua yang ke Jogja mba'e"
T : "What? tapi tadi masih ada 2"
S " Iya, tapi sekarang sudah habis, mungkin sudah ada yang beli di stasiun lain"
T : "Ada banyak sekali kereta ke Jogja hari ini dan semuanya habis"
Mba nya pun heran.
Salah satu dari mereka maju ke loket dan mulai berkomunikasi dengan mas penjual tiket "Please give us tickets to Jogjakarta, give us the most expensive tickets!" Dia pikir kalau ada yang masih tersisa, yang paling mahal sekalipun. Sayangnya, mau yang mahal, pun yang murah semua sudah ludes.
Saya kemudian mencoba memberi saran pada mereka untuk berankat keesokan harinya saja, namun kedua mba bule ini tidak mau, karena mereka memang sudah merencanakan untuk berangkat ke Jogja malam itu. Mba bule ini tetap kekeuh untuk bisa mendapatkan tiket. Mamas penjaga loket pun tidak hilang akal, iya terus mencarikan tiket untuk mereka. Selang beberapa menit kemudian, mamas penjaga loket pun memberi tahu bahwa ada 2 tiket untuk ke Jogja. Saya pun langsung memberi tahu ke mba bule, dengan muka sumringah mereka langsung memesan tiket itu. Sambil sedikit melotot dan kening berkerut ke mamas penjaga loket, saya bertanya "tadi katanya ga ada mas?", mamas penjaga loket pun menjawab gagap "kayannya ada yang cancel deh mba, nih baru aja muncul". Oke, yang penting mba bule ini sudah mendapatkan tiket.
Sambil menunggu transaksi dilakukan, kami pun berkenalan, mereka adalah dua orang keturunan Prancis-Amerika yang sedang kuliah di India dan sedang menikmati libur panjag mereka selama 4 bulan. Salah satu negara yang mereka kunjungi adalah Indonesia. Rim, berbadan sedikit montok, berambut coklat ekor kuda menjabat tangan saya, sambil membawa carrier bervolume sekitar 70 liter iya menjelaskan bahwa mereka sedang liburan. Dan temannya, bernama Sego, "my name means rice right in here?" dia bilang, kalau arti dari namanya itu nasi di Indonesia, dan saya pun membenarkan sambil meluruskan bahwa sego adalah "nasi" bagi orang di daerah Jawa, tapi tidak untuk seluruh Indonesia. Dan ia pun mulai paham. Sego berperawakan lebih tinggi, langsing dengan rambut pirangnya, mengenakan celana batik dan kaus putih sederhana sambil mendorong koper ukuran paling besar. Mereka benar-benar melakukan perjalanan berkeliling tempat, bawaannya seperti orang pindahan.
Saya mengantar mereka sampai ke gerbang masuk menuju peron. Mereka berterima kasih pada saya. Sepanjang perjalanan menuju gerbang, kami berbicang banyak, saya tahu Rim adalah mahasiswa jurusan accounting dan Sego mahasiswa jurusan marketing. Kami berbincang banyak hal, tentang pekerjaan, tujuan perjalanan dan lainnya, sampai pada saat kami dekat dengan gerbang peron, ada seorang mas-mas menghampiri kami dan mulai berbicang menggunakan bahasa inggis
"Miss, are you the guide?" dia bilang begitu
"Oh, bukan mas, baru ketemu tadi, saya bisa Bahasa Indonesia kok mas" saya jawab.
"Oh, saya cuma mau melatih Bahasa Inggris saya kok Miss, saya lagi les"
"oohh...gitu"
Kemudian saya membiarkan mamas itu berbincang dengan kedua bule ini sampai dekat tempat antrian menuju peron. Sesaat sebelum Rim dan Sego masuk, mamas ini meminta untuk foto bersama. Hanya Sego yang mau, Rim tidak mau. Rim pikir aneh sekali foto-foto dengan orang yang tidak dikenal. Setelah puas berfoto dan berbincang bersama, saya dan mamase (yang belakangan ketahuan bahwa namanya Jafar) melambaikan tangan melepas mereka masuk gerbang. Rim dan Sego mengucapkan terima kasih untuk kesekian kalinya.
Saya lanjut melangkahkan kaki menuju ruang tunggu, sendirian lagi, dan mulai membuka bekal.
Hal yang tidak biasa saya lakukan ketika melakukan perjalanan sendirian adalah berbincang dengan orang asing, tapi kali ini, perjalanan saya terasa tidak biasa.
Semacam perbincangan pada diri sendiri, sebuah terapi imajinasi dan kebebasan. Bercakap-cakap dalam jiwa....
Minggu, 03 Mei 2015
Kamis, 30 April 2015
Filosofi dan Logika
Aku, Kamu dan logika kita
Mungkin memang berbeda
Aku, Kamu dan cerita kita
ditemukan, dalam kasih sayang semesta
Kurnia.............
Kita....................
Selalu ada cara terbaik untuk mengingat seseorang. Salah satunya melalui ritual nonton film. Saya mengenang kamu dalam film ini, "Filosofi Kopi".
Filosofi Kopi juga adalah buku pertama yang saya berikan untuk kamu, lengkap bersamaan dengan tanda tangan penulisnya. Maafkan saya yang menarik kamu terlalu dalam pada dunia saya yang tidak seperti orang kebanyakan, terlalu lama kamu berada pada dunia yang mungkin belum tentu cocok dengan kamu. Saya harap, kamu bisa menikmati, dan bahagia berada beberapa tahun di dunia saya.
Terima kasih sudah mau mengerti, memahami dan menerima saya
Saya tahu kamu lelah.....
Saya cukup tahu diri untuk tidak meminta kamu kembali.....
Terima kasih sudah menemani perjalanan saya selama ini
Menonton festival film, menonton teater, melihat bintang, tersesat bersama, jalan kaki menelusuri kota, naik bukit, makan banyak, berdoa bersama, bermimpi bersama, jatuh dan bangun bersama, tenggelam bersama, dan masiiiihhh banyak lagi.
Kita selalu berdebat tentang hidup, tentunya selalu kamu mengandalkan logika berpikirmu yang sangat canggih, dan saya hanya mendengar suara hati yang tidak pernah takut dalam menghadapi apapun.
Untuk beberapa hal, saya rasa kamu terlalu penakut dan penimbang, saya tidak pernah memikirkan resiko, hanya maju terus dan terkadang serampangan. Tapi kamu harus akui, logika tidak selalu membuat kita maju, terkadang justru membuat kita mundur ke belakang karena terlalu takut akan resiko, menimbang sana sini sampai pada akhirnya tidak berani untuk melangkah.
Bertahun bersama kamu, baru tahun lalu saya mendapati kita bisa begitu berperang dengan logika, sampai rasanya suara hati tidak lagi di dengar. Cukup banyak ketakutan, harapan, juga tuntutan yang harus dipenuhi. Menggunakan pikiran untuk memecahkan semuanya tentu tidak pernah cukup, kita alpa mendengar suara hati, kita alpa menangkupkan kedua tangan untuk berserah, kita hanya mengingat harapan-harapan yang tidak terpenuhi. Sampai akhirnya, kamu tahu bahwa mengandalkan kepala tidak cukup untuk membuat kita sama-sama bertahan.
Jika kamu punya cukup waktu, sempatkan untuk menonton film ini, karena di film ini saya mendapatkan banyak sekali makna hidup, juga relasi antara ayah dan anak yang digambarkan dengan sangat apik. Persis di bagian relasi ayah-anak saya mengingat kamu dan berharap bisa menonton bersama. Paling tidak, kita bisa menyelesaikan apa yang sudah kita mulai.
Jika kamu punya cukup waktu, sempatkan menengok Bapak dan Ibu.
Jika kamu punya cukup waktu, sempatkan waktu sejenak untuk memaafkan saya, yang sudah menarik kamu terlalu dalam ke dunia saya.
Jika kamu punya cukup waktu, sempatkan waktu sejenak untuk bersyukur terhadap apa yang sudah dilalui bersama. Kesempatan, juga asa yang pupus.
Jika kamu punya cukup waktu, dengarkan musiknya dan tinggalkan sejenak kesibukan juga rutinitas yang merampas kebebasanmu.
Semua itu hanya bisa dilakukan jika kamu punya cukup waktu.
Minggu, 15 Maret 2015
Merayakan 10 Tahun
A ship that never sink called friendship.
Salah satu kutipan yang saya suka. Persahabatan selalu teruji peristiwa dan waktu. Persahabatan terbaik bukan diukur dari seberapa lama ia bertahan, tapi juga seberapa kuat ia beradaptasi dengan peristiwa - peristiwa yang ada di depan mata.
Persahabatan saya dengan Nda, Rilla dan Acha dimulai sejak 10 tahun yang lalu. Secara tidak sengaja. Awalnya hanya iseng kumpul - kumpul biasa. Saya termasuk orang baru dalam persahabatan mereka. Saya adalah pihak luar yang tiba - tiba mohon izin untuk berteman dengan mereka. Untungnya, saya diterima dengan baik. Jadilah kami berempat, bisa dekat sampai sekarang.
Melalui berbagai peristiwa - peristiwa yang aneh, menggelitik, dan tak jarang membuat air mata menetes. Entah sudah berapa purnama kami lewati bersama. Entah sudah berapa banyak gelak tawa yang tertuang, air mata yang tertahan atau sekedar senyum simpul yang menggantung. Saya percaya, seaneh apapun bentuk persahabatan ini, kami akan selalu bersama.
Aneh, betul - betul aneh bentuk persahabatan kami. Tapi sungguh, kami saling menyayangi satu sama lain. Meskipun terkadang sering ada campur tangan antara satu orang dengan orang lainnya, saling sindir, saling ngomongin di belakang, saling jatuh cinta dengan orang yang sama, sering minta perhatian lebih, tapi entah kenapa, kami selalu merasa kehilangan jika tidak bertegur sapa barang satu minggu.
Saya percaya, setiap orang pasti berubah dan berhak menentukan jalannya masing - masing. Saya juga percaya, bahwa suatu saat nanti kami akan memilih jalan kami masing - masing. Saling meninggalkan. Saya juga percaya, bahwa tali silaturahmi yang sudah terjalin tidak akan pernah terputus sampai kapanpun. Meskipun kadang tak nampak, dan kita menganggap seolah olah tali itu hilang atau terputus. Sampai tiba waktunya, tali itu akan kembali terlihat, dan ternyata tidak pernah terputus.
Untuk 10 tahun yang sangat berharga, saya sungguh bersyukur bisa mengenal kalian. Mari saling berjalan, mencapai mimpi masing - masing. Selalu ingat untuk makan bersama ya, entah kapan dan di mana. Suatu saat nanti, kita bertemu untuk makan bersama sambil membawa anak dan suami turut serta. Ah....
Senin, 09 Februari 2015
Tentang Tuhan, Yang Harus Ada
Saya baru saja selesai menonton salah satu film India terbaik yang pernah saya tonton. Saya bersyukur bisa menontonnya di awal tahun ini. Meskipun, bisa dibilang saya cukup tertinggal, karena teman-teman saya yang lain sudah lebih dulu menonton, membahas, dan memperbincangkan mengenai film ini. Ya, "PK" judulnya, dengan Amir Khan sebagai bintang utamanya. Film ini bercerita tentang seorang makhluk dari planet lain yang ditugaskan untuk melakukan penelitian mengenai makhluk bumi, yang diperankan oleh Amir Khan. Salah satu adegan yang menarik adalah ketika PK masuk ke dalam ruang khusus bayi di salah satu rumah sakit di New Delhi, dan ia mencari tanda atau label agama di tubuh bayi tersebut. Ia bertanya, "mana tandanya?", tanda kalau dia sudah menganut agama dan kepercayaan tertentu. Begitulah, banyak dari kita yang menganut ajaran agama yang sama seperti apa yang orang tua kita percaya. Kita tidak atau mungkin tidak berani menerima atau mengambil kesempatan untuk memilih untuk percaya pada Tuhan yang mana dan menyembah dengan cara apa. Film ini memang banyak bertutur mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pemaknaan pada sosok Tuhan. Tuhan itu satu, kemudian kita menciptakan Tuhan-Tuhan kita sendiri, membentuk kelompok kita sendiri, serta memiliki aturan yang berbeda-beda yang tidak jarang justru menimbulkan perpecahan. Tentu bukan ini yang diinginkan oleh Tuhan.
Mari kita tinggalkan PK sejenak, lalu beranjak pada hal-hal yang kita temui sehari-hari. Di jalan-jalan, saya pernah melihat spanduk dengan tulisan besar-besar "Indonesia Milik Allah", tertanda salah satu ormas islam. Spanduk lainnya lagi berbunyi, "Tolak Pemimpin Kafir". Apakah ini sebagai bentuk cara membela agama, membela Tuhan, atau membela keyakinan golongan tertentu?. Jika spanduk-spanduk itu memang dibuat untuk membela Tuhan serta agama, saya yakin Tuhan tidak ingin dibela dengan cara senorak itu. Saya yakin, Tuhan tidak perlu dibela. Kalau Tuhan perlu dibela, untuk apa Dia punya sifat maha kuasa, dan maha segalanya. Tuhan tidak perlu dibela dengan parang dan bedil, Dia cukup menjentikkan jari jika Dia mau merubah sesuatu sesuai kehendakNya. Jika memang orang-orang yang membela Tuhan itu betul-betul cinta pada Tuhan, tentu mereka tidak akan tega mengayunkan parang ke tubuh manusia sambil mengucap asmanya. Tidak pantas nama Tuhan disebut bersamaan dengan melakukan perbuatan keji. Bukankah Tuhan maha pengasih dan penyayang? Seperti percakapan yang dilakukan Mitch Albom dengan Reb dalam bukunya yang berjudul "Have A Little Faith" mengenai kegelisahan akan banyaknya orang yang melancarkan perang atas nama Tuhan.
"Mitch, kata Reb, "Tuhan tidak menginginkan pembunuhan seperti itu terus berlangsung."
"Lalu mengapa perang tak pernah berhenti?" Ia mengangkat alisnya
"Karena manusia menginginkannya"
Dalam bukunya yang berjudul "God Explained In Taxi Ride", Paul Arden menulis bahwa kata Darwin Tuhan tidak ada, yang ada hanya sains dan revolusi. Menurut Arden, hal itu terlalu sederhana bagi kebanyakan dari kita. Kita membutuhkan belaha jiwa, dan kita menengadah ke atas untuk menemukannya. Kita membutuhkan sesuatu yang sifatnya spiritual untuk kita yakini. Arden menjawab kegelisahan kita tentang Tuhan melalui buku ini, yang juga didasari oleh kegelisahannya sendiri. Ada lagi kutipan Arden yang menarik bagi saya,
" Kita semua punya sambungan langsung ke Tuhan. Kita tidak membutuhkan pengkhotbah atau nabi. Kita hanya perlu percaya bahwa ada suatu kuasa atau kekuatan yang sempurna. Namun tidak banyak hal akan menerima hal ini. Terlalu sederhana, kita harus membuatnya rumit. Tuhan pun tahu, itulah yang dilakukan agama, yaitu membuat segala hal menjadi rumit."
" Kita semua punya sambungan langsung ke Tuhan. Kita tidak membutuhkan pengkhotbah atau nabi. Kita hanya perlu percaya bahwa ada suatu kuasa atau kekuatan yang sempurna. Namun tidak banyak hal akan menerima hal ini. Terlalu sederhana, kita harus membuatnya rumit. Tuhan pun tahu, itulah yang dilakukan agama, yaitu membuat segala hal menjadi rumit."
Jika Tuhan memang sedekat itu dengan kita, begitu sederhananya Dia terjamah tanpa perlu ritual dan syarat yang membuatnya menjadi rumit, Ah, terkadang yang terlalu sederhana kerap disepelekan. Harus disampaikan dengan kata-kata setinggi langit dan jejeran ayat yang membuat kening berkerut, untuk membuat seseorang betul-betul yakin akan keberadaan Tuhan.
Beberapa hari lalu saya menemani sahabat saya untuk operasi kecil penanaman cimino. Sebuah alat yang ditanam di lengan kiri yang berfungsi sebagai jalan permanen dalam proses cuci darah. Sahabat saya mengidap penyakit ginjal yang tergolong langka sejak ia berusia empat tahun. Ia bertahan selama 22 tahun berdamai dan menerima penyakit yang ada di tubuhnya. Di saat orang lain mungkin sudah hampir menyerah, dan marah terhadap diri sendiri, dan mungkin juga marah terhadap Tuhan. Sahabat saya ini justru percaya, Tuhan punya maksud lain memberika ia penyakit yang begitu unik. Teriring doa dan harapan untuk Tuhan saat saya, serta kedua orang tuanya mendorong kursi roda mengantarkan ia menuju ruang operasi. Dia sendirian di sana, menjalani proses itu, hanya Tuhan satu-satunya tempat ia bergantung. Berharap dokter tidak salah memotong urat-uratnya, berharap segalanya berjalan dengan lancar. Barangkali, Tuhan memang perlu ada untuk tempat bergantung harapan, Untuk tempat menghujat dan bertanya "kenapa Tuhan? Kenapa harus saya?". Barangkali, di antara semua kekuasaan yang ada di muka bumi, di antara dokter-dokter bedah yang hebat, di antara polisi-polisi yang baik, penguasa yang jujus, politikus handal, dan jutawan dermawan, Tuhan harus tetap ada sebagai pengingat bahwa ada kuasa di atas kuasa. Bahwa ada yang maha Dia yang mengendalikan seluruh semesta dan isinya. Tuhan ada untuk tempat bergantung kaum papa, kaum yang merasakan ketidak adilan atas dirinya, kaum yang merasa hidup begitu sulit, tapi memilih untuk tidak gantung diri karena percaya Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Karena Tuhan ada, sahabat saya percaya bahwa hidupnya harus dijalani penuh makna, serta penuh harap akan kesembuhannya. Ia percaya, di balik tangan dokter yang hebat, ada kuasa Tuhan yang mengendalikan semuanya.
Jika Tuhan memang ada, di mana kita menemukanNya?
Di masjid, pura, wihara, kuil, gereja, atau keheningan?
Jawabannya selalu ada di dalam dirimu sendiri.
Selasa, 03 Februari 2015
Berhenti Lalu Lanjut Jalan
Sebuah pesan singkat, di telepon genggam seorang sahabat :
"Saya sudah lakukan semua yang saya bisa, dan tidak ada perubahan. Ini saatnya saya berhenti, dan melanjutkan kehidupan saya sendiri"
"Saya sudah lakukan semua yang saya bisa, dan tidak ada perubahan. Ini saatnya saya berhenti, dan melanjutkan kehidupan saya sendiri"
Minggu, 01 Februari 2015
Sabtu Bersama Bapak
Seperti biasa, saya baru saja membaca sebuah buku yang menggugah hati saya, yang membuat saya membacanya berulang kali. Tulisan ini bukan semacam review untuk sebuah buku yang habis saya baca. Tulisan ini saya buat sebagai bentuk refleksi atas apa yang sudah saya baca. Judul buku ini adalah "Sabtu Bersama Bapak", yang ditulis oleh Adhitya Mulya dengan bahasa yang ringan dan sarat makna.
Membaca buku ini seperti bercermin, pada masa lalu juga membawa saya berpikir jauh ke depan. Buku ini memang ditulis dari sudut pandang seorang bapak. Seorang bapak yang ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak serta istrinya. Sosok bapak yang tidak hadir secara nyata, tapi hadir secara makna, menemani keluarga mereka tumbuh dewasa.
Hubungan antara anak laki-laki dan bapaknya adalah sebuah relasi yang unik. Hal ini saya dapatkan dari hasil pengamatan saya terhadap sahabat-sahabat laki-laki saya. Ada sebuah jeda yang semakin lebar antara bapak dan anak lelakinya ketika sang anak beranjak dewasa. Sahabat saya, selalu bercerita seperti itu. Sama sekali, Ia tidak cocok berbincang dengan bapaknya. Entah mungkin karena sama-sama berasal dari planet yang sama, atau memiliki ego kelaki-lakian yang sama, seorang anak lelaki menjadi begitu renggang ketika beranjak dewasa. Tidak heran, seorang anak laki-laki akan lebih dekat dengan ibunya. Mungkin diam-diam hal ini juga ditakuti oleh sang bapak. Jangan-jangan seorang bapak menginginkan anak lelakinya tidak tumbuh besar dan dewasa, agar ia bisa selalu nyambung, bisa selalu menjadi sosok bapak yang diimpikan bagi anak-anaknya. Seperti apa pun sosok bapak seharusnya, Adith menuliskan hubungan antara bapak dengan anak laki-lakinya dengan sangat apik di buku ini.
Relasi antara anak perempuan dengan bapaknya juga bisa dibilang unik. Saya contohnya, dekat dengan kedua orang tua saya. Bapak, adalah salah satu sosok laki-laki yang saya kagumi, terlepas dari berbagai sifat yang melekat pada dirinya. Karena bapak ada, saya bisa lahir ke dunia ini, bisa hidup dan mengenyam pendidikan yang nyaman, hidup berlimpah meski tidak mewah. Bapak saya, yang mengajari saya pertama kali naik sepeda, memutar-mutar tubuh saya, dan membawa saya terlelap di pangkuannya. Sampai usia saya sebesar ini, saya kadang masih suka manja sama bapak. Saya juga suka menghabiskan waktu bersama bapak. Terlebih saat malam pergantian tahun. Hampir setiap tahun saya habiskan dengan menonton TV bersama bapak, sampai tiba pergantian tahun lalu kami saling pamit tidur.
Membaca buku "Sabtu Bersama Bapak" membuat saya menerawang jauh ke depan. Saya ingin mencontoh sosok Bapak Gunawan dan Ibu Itje di buku ini. Pasangan yang saling mendukkung satu sama lain. Saling cinta sampai akhirnya salah satu dari mereka harus pindah ke dunia yang lain. Saya juga ingin mencontoh bagaiaman Pak Gunawan mendampingi anak-anaknya tumbuh. Banyak yang saya inginkan, dan semoga bisa tercapai.
Buku ini juga sarat dengan beberapa nilai-nilai penting yang harus dimiliki oleh orang tua. Sebuah buku yang banyak menyisipkan pelajaran mengenai parenting tanpa terkesan menggurui juga minim teori. Semoga, buku ini bisa dibaca oleh lebih banyak orang, lebih banyak sahabat laki-laki saya. Dan untuk bapak, saya sayang bapak.
Sabtu, 31 Januari 2015
Self Project
Menjadi manusia rutin mungkin adalah salah satu ketakutan yang saya alami beberapa tahun silam. Sebagai orang yang mudah sekali bosan, saya selalu punya banyak cara untuk memecah rutinitas. Dalam hal berpacaran saja misalnya, ada serentet kegiatan dari mulai memanjat pohon sampai masuk ke gorong-gorong menghiasi kebersamaan saya dan dia. Betapa takutnya saya untuk duduk bekerja di sebuah kubikel yang ruang geraknya terbatas. Kini saya justru sangat menginginkannya. Saya menginginkan sebuah rutinitas.
Suatu kegiatan yang teratur, yang berpola. Saya menyadari, ternyata saya hanya takut untuk hidup teratur, hidup berpola dan takut kehilangan diri sendiri di antara rentetan pola pola tersebut. Bangun pagi, shalat subuh, sarapan, berangkat kerja, pulang sore lalu tidur. Terus begitu setiap hari adalah mimpi buruk bagi saya (dulu). Dengan alasan itulah saya selalu memilih pekerjaan lapangan. Pekerjaan yang lebih dinamis dan bisa bertemu dengan orang-orang yang berbeda.
Kini, saya sadar. Ternyata saya butuh tantangan yang lain. Di luar kebebasan saya. Untuk itu, mulai tahun ini, saya memutuskan dan bermimpi juga untuk bisa bergabung di salah satu perusahaan multi nasional dan bisa belajar banyak hal di sana (semoga tercapai, amin). Selain itu, saya juga membuat tantangan-tantangan kecil untuk diri saya sendiri yang saya namankan self project. Self project saya di bulan Januari ini adalah melakukan latihan fisik secara rutin setiap hari. Berawal dari keinginan saya untuk berolahraga, saya ingin lari tapi sayangnya belum punya sepatu lari dan kurang rajin untuk bangun pagi. Saya memutuskan untuk melakukan sit up sehabis bangun tidur atau sebelum tidur. Awalnya ini saya lakukan sendiri, kemudian saya mengajak salah satu teman saya, sebut saja dia Nino untuk menjadi rival saya. Hal ini berlangsung selama beberapa hari. Sampai akhiranya rutinitas sit up yang sudah terjadwal sempat terhenti karena saya menderita demam tinggi sehabis digigit kelabang ketika tidur -_-".
Project sit up ini saya lanjutkan lagi sendirian. Sampai pada suatu hari, ketika saya hadir di pertemuan rutin tim Expos, ternyata pelatih taekwondo saya sedang menjalankan program latihan untuk meningkatkan performa fisiknya. Wah, saya sangat tertarik akan hal ini. Bincang demi bincang, saya diberikan serentetan program latihan yang harus saya lakukan setiap hari. Lari di tempat, jumping jack, squad, adalah beberapa di antaranya. Awal - awal melakukan latihan ini, sungguh rasanya seperti habis melakukan marathon sejauh 9 km. Otot paha dan betis saya tertarik semua, yang membuat saya berjalan agak tertatih. Hari demi hari dilalui dan seri demi seri dijalani, kini badan saya menunjukkan hasilnya. Saya merasa lebih sehat, badan saya lebih ringan, juga yang terpenting adalah perut saya kempis :). Porject ini akan terus saya jalani sampai tepat tanggal 7 April. Perayaan ulang tahun tim bayangan (tim fighter di tim taekwondo saya).
Januari sudah hampir habis, saya ingin menantang diri saya lagi di bulan Februari. Self Project di bulan Februari adalah #FebruariMenulis. Saya akan membuat suatu rutinitas untuk mengasah kembali kemampuan bertutur saya melalui tulisan. Juga sebagai sarana latihan menulis demi sebuah project menulis novel bersama mas Edi (maapkeun mas, belum setor tulisan sampai sekarang -_-)
Terima kasih Januari yang penuh kejutan :)
Mari menyambut kejutan-kejutan berikutnya di Februari.
Langganan:
Postingan (Atom)



